Jendela
Harapan
Belum lama ini, seorang pria, usia setengah baya, tiba-tiba menegur saya yang tengah makan malam di sebuah rumah makan Padang, di sebuah hotel
Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
BANJARMASINPOST.CO.ID - Belum lama ini, seorang pria, usia setengah baya, tiba-tiba menegur saya yang tengah makan malam di sebuah rumah makan Padang, di sebuah hotel dekat Bandara Soekarno Hatta.
“Pak Mujib kan?”
“Ya,” kataku.
Dia pun duduk di kursi depan meja saya yang kosong. Entah mengapa, kami langsung akrab.
Dia rupanya seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) tingkat kabupaten.
“Saya menyekolahkan anak-anak saya di pesantren, dan berharap kelak mereka mandiri, berwirausaha. Saya tidak mau mereka menjadi ASN. Bagaimana pendapat Bapak?” katanya.
“Mengapa?” saya balik bertanya.
“Karena dalam kondisi sekarang, seorang ASN sulit sekali naik karirnya jika tidak mau mengikuti arus permainan,” jawabnya.
Dia menjelaskan bahwa biaya politik yang tinggi dalam pilkada membuat para politisi sulit untuk jujur. Setelah pilkada, kemungkinan yang terjadi hanya dua: balas jasa atau balas dendam. Orang-orang yang netral mungkin aman, tetapi tidak dapat jabatan. Sedangkan tim sukses yang berjasa memang diberi jabatan, tetapi tidak cuma-cuma juga. Maklum, modal harus kembali, dan keuntungan harus berlipat.
Obrolan kami pun melebar ke politik nasional. Saat itu demonstrasi mahasiswa sedang ramai-ramainya. ‘Pelemahan’ KPK dan bagi-bagi jabatan tampaknya menunjukkan bahwa para elit sudah berkompromi untuk meraih kepentingan masing-masing. Politik mungkin akan stabil, tetapi publik tidak akan banyak diuntungkan.
“Ya, memang ada yang bilang, politik nasional kita mulai bergaya Orde Baru,” kataku.
Tetapi apakah kita sudah kehilangan harapan? Kita tentu tidak boleh berputus asa.
“Kita ini bangsa yang besar, yang lebarnya dari London sampai Teheran, terdiri dari 13.466 pulau, yang dihuni lebih dari 360 etnis, dengan 719 bahasa lokal. Kita adalah bangsa Muslim terbesar di dunia. Jika dibandingkan dengan bangsa-bangsa Muslim di Timur Tengah, kita lebih berhasil dalam berdemokrasi,” kataku menghibur diri.
“Bukankah orang-orang baik masih ada di lingkungan bapak?” tanyaku lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/profesor-dr-h-mujiburrahman-ma-rektor-uin-antasari.jpg)