Jendela

Harapan

Belum lama ini, seorang pria, usia setengah baya, tiba-tiba menegur saya yang tengah makan malam di sebuah rumah makan Padang, di sebuah hotel

Harapan
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Belum lama ini, seorang pria, usia setengah baya, tiba-tiba menegur saya yang tengah makan malam di sebuah rumah makan Padang, di sebuah hotel dekat Bandara Soekarno Hatta.

“Pak Mujib kan?”

“Ya,” kataku.

Dia pun duduk di kursi depan meja saya yang kosong. Entah mengapa, kami langsung akrab.

Dia rupanya seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) tingkat kabupaten.

“Saya menyekolahkan anak-anak saya di pesantren, dan berharap kelak mereka mandiri, berwirausaha. Saya tidak mau mereka menjadi ASN. Bagaimana pendapat Bapak?” katanya.

“Mengapa?” saya balik bertanya.

“Karena dalam kondisi sekarang, seorang ASN sulit sekali naik karirnya jika tidak mau mengikuti arus permainan,” jawabnya.

Dia menjelaskan bahwa biaya politik yang tinggi dalam pilkada membuat para politisi sulit untuk jujur. Setelah pilkada, kemungkinan yang terjadi hanya dua: balas jasa atau balas dendam. Orang-orang yang netral mungkin aman, tetapi tidak dapat jabatan. Sedangkan tim sukses yang berjasa memang diberi jabatan, tetapi tidak cuma-cuma juga. Maklum, modal harus kembali, dan keuntungan harus berlipat.

Halaman
123
Editor: Didik Trio
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved