Berita Kesehatan

Waspada, Terlalu Sering Menonton TV dan Bermain Gadget Bisa Tunda Perkembangan Otak Anak

Efek ponsel, tablet dan televisi ternyata sangat berbahaya untuk tumbuh kembang otak bayi, balita dan anak pra sekolah.

Waspada, Terlalu Sering Menonton TV dan Bermain Gadget Bisa Tunda Perkembangan Otak Anak
(Shutterstock)
Ilustrasi-otak manusia 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Efek ponsel, tablet dan televisi ternyata sangat berbahaya untuk tumbuh kembang otak bayi, balita dan anak pra sekolah.

Sebuah studi baru, yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Pediatrics, menemukan dampak buruk penggunaan ponsel, tablet dan televisi pada anak.

Hasil penelitisan tersebut menyimpulkan ponsel, tablet, dan bahkan televisi dapat menunda perkembangan otak pada bayi, balita, dan anak prasekolah. 

Para peneliti berharap para orangtua membawa anak-anak kembali ke taman bermain dan tidak sibuk bermain online, karena efek negatifnya pada anak-anak.

Bantu Kuras Sumur Warga, 1 Personel BPBD Bandar Lampung Tewas Terjatuh, Begini Kronologisnya

Dampak Gempa Tektonik 7,1 Guncang Maluku Utara, 36 Bangunan Rusak hingga 3 Orang Terluka

Pelaku Pembunuhan Sadis 2 Agen Sapi di Lampung Tengah Didor, Terungkap Korban Diracun Kopi

Penampakan Rumah Mulan Jameela yang Akan Ditinggali Bareng Ahmad Dhani Pasca Bebas? Eks Maia Bersiap

Para peneliti menganalisis pemindaian otak anak-anak, usia tiga hingga lima tahun, dan paparan mereka terhadap layar.

Anak-anak yang terpapar TV dan gadget selama lebih dari satu jam sehari tanpa keterlibatan orangtua, terlihat memiliki tingkat perkembangan yang lebih rendah dalam area putih otak mereka.

Wilayah ini memainkan peran penting dalam keterampilan bahasa, literasi, dan kognitif.

"Ini adalah studi pertama yang mendokumentasikan hubungan antara penggunaan layar dan ukuran struktur dan keterampilan otak yang lebih rendah pada anak-anak usia prasekolah," kata John Hutton, penulis utama penelitian dan seorang dokter anak dan peneliti klinis di Rumah Sakit Anak Cincinnati.

"Ini penting karena otak berkembang paling cepat dalam lima tahun pertama."

Dia mencatat bahwa otak masih sangat plastis – perubahan yang tak dapat kembali ke bentuk semula, pada masa kanak-kanak.

Halaman
12
Editor: Hari Widodo
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved