BPost Cetak
Kuasa Kuantitas
Era digital adalah era kuantitas,” kata Musyafi, Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, saat diskusi bersama para mahasiswa UIN Antasari
Oleh: Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
BANJARMASINPOST.CO.ID - Era digital adalah era kuantitas,” kata Musyafi, Pemimpin Redaksi Banjarmasin Post, saat diskusi bersama para mahasiswa UIN Antasari, Senin, 25 November 2019 lalu.
Kuantitas berarti jumlah, angka, besaran atau hitungan. Di era ini, kuantitas menentukan kualitas. Inilah salah satu penyakit modernitas.
Musyafi menjelaskan, sekarang orang dianggap hebat berdasarkan berapa banyak pengikutnya di media sosial, berapa banyak orang yang menonton videonya di You Tube atau berapa banyak orang yang menyukai dan mengomentari kirimannya di media sosial.
Perkara apa sebabnya sehingga banyak orang menyukai dan mengikutinya, itu tidak penting karena kuantitas sudah otomatis menunjukkan kualitas.
• Lebih Menguntungkan, UPPB Pelita Abadi Ajak Petani Jual Karet Kering, Targetkan 200 Ton per Bulan
• Gol Lionel Messi di Menit Akhir Menangkan Duel Barcelona Vs Atletico Madrid 1-0, Griezmann Disiuli
• Man United Gagal Menang di Old Traford, Ditahan Aston Villa 2-2
• Menhan Prabowo Tak Hadiri Reuni Akbar 212, Berikut Alasannya Eks Suami Titiek Soeharto Ini
Lebih penting lagi, kuantitas juga memberikan nilai ekonomis alias duit. Semakin tinggi jumlah penonton Anda di You Tube, semakin banyak Anda dapat uang.
Semakin banyak klik terhadap laman sebuah berita online, semakin tinggi harga tayang iklan di laman itu.
Semakin tinggi jumlah pengikut Anda di media sosial, semakin mahal bayaran Anda untuk mengiklankan atau mendukung sebuah produk.
Dunia akademis tak terkecuali. Akreditasi program studi antara lain juga ditentukan oleh berapa jumlah profesor dan doktor, berapa jumlah dana riset dan pengabdian masyarakat, berapa jumlah publikasi di jurnal dan buku, berapa jumlah mahasiswa asing dan seterusnya.
Anda baru dianggap ilmuwan hebat jika Google Scholar mencatat bahwa karya-karya Anda dikutip oleh ribuan atau jutaan orang.
Anehnya, kita seolah tak berdaya atau tak peduli dengan dominasi kuantitas ini. Kita menerimanya saja sebagai kebenaran.
Padahal, kuantitas dan kualitas itu adalah dua hal yang berbeda alias tidak identik. Yang banyak belum tentu bermutu, dan yang bermutu belum tentu banyak.
Sesuatu atau seseorang yang banyak disukai, belum tentu bermutu. Menyamakan kualitas dengan kuantitas itu menyesatkan.
Saya pun teringat dengan buku karya René Guénon (1886-1962) berjudul The Reign of Quantity and the Signs of the Times (Kuasa Kuantitas dan Tanda-Tanda Zaman) yang semula terbit pada 1945 dalam bahasa Perancis.
Dalam buku ini, Guénon mengingatkan bahwa pandangan hidup manusia modern sekuler sangat menjauh dari hakikat realitas. Akibatnya, kuantitas menjadi ukuran utama segalanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/profesor-dr-h-mujiburrahman-ma-rektor-uin-antasari.jpg)