Suara Rekan
Pasar Besar
BANJIR besar menyambut tahun baru di Jakarta. Tanpa diduga tanpa dinyana hujan deras mengguyur pada saat orang menanti pergantian tahun
Oleh: Pramono BS
BANJARMASINPOST.CO.ID - BANJIR besar menyambut tahun baru di Jakarta. Tanpa diduga tanpa dinyana hujan deras mengguyur pada saat orang menanti pergantian tahun hingga siangnya sungai-sungai meluap, Jakarta berubah bagai lautan. Bukan hanya Jakarta, tapi juga daerah sekitar seperti Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor.
Watak hujan di ibu kota seperti berubah total menjadi ekstrem. Kebetulan Pemda juga tidak siap mengantisipasi banjir. Curah hujan yang biasa menimbulkan banjir hanya kisaran 170 mm, kini hampir 400 mm sehingga rumah-rumah lantai dua pun tenggelam.
Di tengah penderitaan rakyat malahan terjadi perdebatan yang tidak perlu antara Gubernur DKI Anies Baswedan dengan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono. Bukan hanya dengan menteri, dengan Presiden pun Anies menohoknya.
Intinya Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menyinggung normalisasi Sungai Ciliwung yang mandek sebagai salah satu penyebab banjir. Sebaliknya Anies membantah, yang menyebabkan banjir adalah air kiriman dari hulu. Normalisasi Sungai Ciliwung yang terhenti sejak era Anies dibilang bukan penyebab banjir.
Dari 36 kilometer daerah aliran sungai, baru dinormalisasi 16 kilometer waktu zaman gubernur lama. Sisanya sampai sekarang sengkarut tak terurus, rumah liar dibiarkan.
Begitu pula pendapat Presiden Jokowi bahwa kebiasaan membuang sampah seenaknya bisa memicu banjir dibantah Anies. “Banjir di Halim, Kemayoran dan lain-lain tidak ada sampahnya,” katanya.
Itulah akibatnya kalau politik tidak beradab, tidak berahlak, dicampur aduk dengan nasib rakyat. Dalam kampanye pilgub Anies menjanjikan untuk tidak menggusur permukiman dan sekarang dia buktikan. Bantaran Sungai Ciliwung pun kini menjadi tempat tinggal yang nyaman dan aman dari penggusuran.
Situasi itu menunjukkan bahwa Jakarta semakin tidak memenuhi syarat menjadi ibu kota negara. Penduduknya terlampau padat, nyaris tak ada tanah kosong sejengkal pun karena semua sudah dihuni manusia. Saat-saat Idulfitri, Natal dan tahun baru adalah saat di mana orang Jakarta yang tidak mudik bisa menghirup udara segar, bebas dari kemacetan dan polusi seperti yang baru terjadi, tapi kini ditingkahi banjir yang justru membuat lebih menderita.
Apa yang terjadi di Jakarta bisa menjadi “guru” terbaik bagi pemerintah yang akan memindahkan ibu kota baru ke Kalimantan Timur. Jakarta itu seperti Banjarmasin, kota yang tidak di “plan” sebelumnya tapi kota tumbuh. Karena sudah berjalan ratusan tahun tumbuhnya pun tak karu-karuan, ke segala arah. Jangan heran kalau anda ke Jakarta melihat kompleks jalan-jalan di perumahan super mewah berubah menjadi jalan umum karena semua jalan macet.
Ibu kota baru di Kaltim akan seperti Palangkaraya yang didesain sejak awal, bahkan Presiden pertama RI Ir Soekarno pernah akan memindahkan ibu kota ke Palangkaraya. Nasib kurang baik, pemerintahan Jokowi/Ma’ruf memilih Kaltim yang memiliki berbagai kelebihan seperti, prasarana, potensi maupun histori.
***
Kapan selesainya belum tahu tapi sebelum Presiden Joko Widodo lengser tahun 2024 tentunya dia harus sudah menikmati istana barunya dengan segala aktivitas pemerintahannya yang akan makin sibuk. Jadi bisa dikira-kira sendiri kapan Kaltim menjadi ibu kota.
Rencananya ibu kota baru menjadi propinsi sendiri seperti DKI Jakarta. Pemenang sayembara disain site plan (rancangan ibukota) baru sudah ada, investor siap, tekad sudah bulat. Banyak negara di dunia punya pengalaman memindahkan ibu kota, jadi tidak ada yang aneh. Jakarta akan menjadi pusat bisnis seperti New York atau Sidney di Australia. Tapi itu pun butuh pembenahan agar orang tertarik. Bukan seperti sekarang, masuk Jakarta dihadang banyak kendala, mulai kemacetan sampai banjir. Tugas pokok Gubernur DKI sebenarnya pada dua hal tersebut.
Tentu pengalaman Presiden Joko Widodo saat menjadi Gubernur DKI akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menata ibu kota baru agar tidak sesemerawut Jakarta. Siapa pun akan pusing melihat Jakarta. Permukaan tanah ambles terus, geografis tidak aman, rawan gempa, banjir terus mengancam, macet tak berkesudahan dll. Dari Presiden sampai preman ada di Jakarta.