Jendela

Dangkal

Saya sengaja membawa buku filsafat perenial berjudul The Underlying Religion suntingan Martin Lings dan Clinton Minnaar (2007) sebagai bacaan pengisi

Editor: Eka Dinayanti
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID - Jumat lalu, saya mendadak harus ke Jakarta untuk satu urusan serius dan ruwet. 

Saya sengaja membawa buku filsafat perenial berjudul The Underlying Religion suntingan Martin Lings dan Clinton Minnaar (2007) sebagai bacaan pengisi jiwa.

Ketika di dalam pesawat, saya tergoda untuk menonton film, dan iseng memilih film berjudul A Star is Born (2018).

Ternyata buku dan film ini sama-sama menginspirasi.

Dari segi cerita, film A Star is Born yang dibintangi Lady Gaga dan Bradley Cooper ini tidaklah unik.

Ia adalah sebuah drama cinta tentang dua tokoh penyanyi-musisi, dengan alur mirip dengan Pretty Woman atau Cinderella.

Yang membuat saya terpana justru lagu yang dinyanyikan di film ini berjudul Shallow (dangkal).

Tak heran, lagu ini mendapat penghargaan Oscar kategori lagu orisinil terbaik 2019.

Cooper memulai liriknya: Tell me something, girl. Are you happy in this modern world? Or do you need more? Is there something else you are searching for? I am falling. In all the good times I find myself longing for change. And in the bad times I fear myself. (Beritahu aku, hai anak gadis. Apakah kau bahagia di dunia modern ini? Atau kau ingin lebih? Adakah sesuatu yang lain yang kau cari? Aku jatuh. Di saat-saat baik, aku temukan diriku merindukan perubahan. Di saat-saat buruk, aku takut pada diriku sendiri).

Lirik berikutnya dilanjutkan Gaga: Tell me something, boy. Aren’t you tired trying to fill that void. Or you need more. Ain’t it hard keep in so hard core. I am off the deep end. Watch as I dive in. I never meet the ground. (Beritahu aku, hai anak lelaki. Bukankah kau lelah berusaha mengisi kekosongan itu. Atau kau ingin lebih. Bukankah sulit berusaha sangat keras seperti itu? Aku tenggelam di ujung kedalaman. Lihatlah aku menyelam. Aku tidak akan pernah sampai ke dasar).

Mengapa lagu ini berhasil menempati urutan pertama 100 tangga lagu selama 22 minggu setelah dirilis? Sebagai bukan ahli musik saya menilai, selain iramanya yang indah-merdu, lirik lagu ini mewakili suara hati manusia modern.

Mereka tiap hari berjuang, mengejar sesuatu yang membahagiakan.

Namun, saat sesuatu itu tercapai, kebahagiaan itu tak ada.

Yang ada justru keinginan baru dan kekosongan hati.

Saya pun membaca The Underlying Religion, terutama bab yang ditulis oleh Lord Northbourne berjudul “Looking Back on Progress”.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved