Jendela
Dangkal
Saya sengaja membawa buku filsafat perenial berjudul The Underlying Religion suntingan Martin Lings dan Clinton Minnaar (2007) sebagai bacaan pengisi
Kebahagiaan dunia, lahir-batin, adalah cermin kebahagiaan akhirat.
Kenikmatan dunia, betapapun terbatasnya, layak untuk dinikmati dan disyukuri.
Kesalahan manusia adalah menganggap dunia ini segala-galanya.
Akibatnya, dia cepat bosan dan tak pernah merasa puas.
Sebagaimana ditunjukkan judul lagu Gaga dan Cooper di atas, hidup manusia modern seringkali terasa shallow, dangkal. Sains, teknologi dan seni modern, telah mengubah peradaban manusia yang katanya semakin maju.
Tetapi apakah arti kemajuan itu? Apakah kita semakin paham dan menghayati arti hidup dan kehidupan ini? Apakah makna kehadiran alam semesta ini? Apakah fungsi agama bagi hidup kita?
Lirik lagu Shallow diakhiri dengan kalimat: We are far from the shallow now (sekarang kita jauh dari kedangkalan itu).
Ini suatu kenyataan atau harapan? Kegemaran kita pada penampilan luar, citra, kulit, bentuk ketimbang isi, kuantitas ketimbang kualitas, hak ketimbang kewajiban, termasuk dalam kehidupan beragama, membuat saya ragu, apakah kita memang sudah jauh dari kedangkalan itu! (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/profesor-dr-h-mujiburrahman-ma-rektor-uin-antasari.jpg)