Jendela

Dangkal

Saya sengaja membawa buku filsafat perenial berjudul The Underlying Religion suntingan Martin Lings dan Clinton Minnaar (2007) sebagai bacaan pengisi

Editor: Eka Dinayanti
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Manusia modern, kata Northbourne, selalu mengejar kemajuan (progress) yang berarti penguasaan terhadap segala sesuatu di luar dirinya.

Padahal, dunia di luar kita, bahkan diri kita sendiri, adalah terbatas, sementara gairah di dalam diri kita tak pernah puas dengan yang terbatas.

Kontras dengan pandangan modern, manusia beragama (tradisional) melihat dunia secara berbeda.

Alih-alih terarah ke luar, mereka berusaha membebaskan diri dari keterbatasan dunia dengan menyelam ke dalam batin.

Diri manusia, yang disebut ruh, adalah sesuatu yang tak bisa dijelaskan, tetapi bisa dialami.

Ruh adalah pintu hakikat yang menghubungkan manusia dengan Tuhan yang Tak Terbatas.

Karena itu, kata Northbourne, orang yang berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pengasingan diri dari keramaian bukanlah anti-sosial.

Dia justru berusaha mencari kebenaran melalui pengalaman rohani, bukan melalui pengamatan inderawi.

Dia bukan berusaha memuaskan egonya, melainkan berjuang menemukan makna keberadaannya di hadapan Tuhan.

Pencerahan, wahyu atau penyingkapan yang diperolehnya, justru sangat bermakna bagi umat manusia.

Dalam pandangan agama, meskipun dunia dan hidup kita di dalamnya terbatas, ada titik awal dan akhir yang tidak terbatas.

Meskipun setiap yang hidup pasti akan mati, kematian bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan satu tahapan menuju kehidupan berikutnya.

Meskipun dunia ini penuh dengan kenikmatan, ia bukanlah surga yang sempurna. Upaya mewujudkan surga di dunia adalah sia-sia.

Apakah itu berarti dunia ini tak perlu diurus, cukup akhirat saja? Dunia tetap penting.

Dunia ini adalah jalan menuju akhirat.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved