BPost Cetak
QRIS, Behavioral Economics dan Literasi Keuangan Digital
BANK Indonesia telah resmi memberlakukan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) pada 1 Januari 2020
Oleh: Khairunnisa Musari Dosen Tetap Prodi Ekonomi Syariah Pascasarjana IAIN Jember
BANJARMASINPOST.CO.ID - BANK Indonesia telah resmi memberlakukan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) pada 1 Januari 2020. QRIS adalah QR code berstandar nasional yang berfungsi sebagai alat pembayaran.
QRIS adalah jawaban Bank Indonesia atas perkembangan inovasi teknologi dan maraknya kanal pembayaran berbasis QR code.
Seiring kian beragamnya alternatif sistem pembayaran digital, hal yang tidak boleh diabaikan oleh Bank Indonesia adalah meningkatkan literasi keuangan digital.
Berlakunya QRIS dapat menjadi momentum untuk digiatkannya literasi keuangan digital. Literasi ini bukan sekedar agar masyarakat melek tentang alat-alat pembayaran non tunai digital semata, tetapi juga tentang bagaimana menghadapi era keuangan digital, termasuk mengelola dompet digital dan menjaga keamanan data serta perangkat keuangan digital.
Melihat perkembangan peer-to-peer (P2P) lending berbasis teknologi digital yang memakan sejumlah korban, maka sistem pembayaran digital perlu pula mengantisipasinya.
• Dipanggil Tim Bakorpakem Kejari Pasuruan, Ningsih Tinampi Mengaku Keseleo Lidah
• Sri Mulyani Umumkan Kenaikan Dana Bos, Satu Siswa Dapat Rp 1,5 Juta, Jatah Guru Honorer Juga Naik
• Rumahnya Kebanjiran, Rasyidi Tewas Kesetrum, Sang Anak Ikut Jadi Korban Saat Akan Menolong
• 4 Watak Nikita Mirzani yang Layak Ditiru, Seteru Dipo Latief dan Sajad Ukra Dipuji Inul Daratista
Merujuk behavioral economics, manusia dapat tidak rasional dan kerap memasukkan unsur emosi dalam mengambil keputusan ekonomi.
Sementara, berbagai kemudahan dalam sistem keuangan digital berpeluang mengubah atau menggeser perilaku penggunanya dengan cepat. Pertanyaannya, perilaku tersebut akan mengarah pada perilaku seperti apa?
Behavioral Economics
Behavioral economics adalah cabang baru dalam ilmu ekonomi yang membantu menjelaskan mengapa pengambilan keputusan ekonomi dapat saja dikacaukan oleh bias atau kesalahan berpikir yang berulang karena terperangkap kekeliruan atau tertipu oleh ilusi.
Behavioral economics menunjukkan bahwa manusia nyatanya tidak selalu rasional dan objektif.
Dalam cabang ilmu ekonomi ini dikenal herd behavior. Yaitu, perilaku mengambil keputusan yang didasarkan atas perilaku orang lain.
Manusia ternyata punya kecenderungan untuk bersikap latah. Pilihan-pilihan individu terkadang diambil karena meniru individu lain. Hal ini pula yang mungkin dapat menjelaskan mengapa tingkat literasi keuangan di Indonesia jauh lebih rendah daripada tingkat inklusi keuangan.
Selain itu, terdapat survivor bias. Yaitu, perilaku mengambil keputusan yang didasarkan atas data yang tidak valid. Kesimpulan yang diambil merujuk pada kepalsuan statistik sehingga menggeneralisirnya.
Hal ini juga yang mungkin dapat menjelaskan mengapa investasi bodong atau P2P lending ilegal tetap dapat memikat masyarakat berdasarkan testimoni satu atau dua orang meski korban yang berjatuhan jauh lebih banyak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kepala-departemen-kebijakan-sistem-pembayaran-dksp.jpg)