Opini Publik
Cuaca, Iklim dan Covid-19
Cuaca dan iklim hanya memberikan faktor pendukung untuk kasus virus corona berkembang atau naik, tapi bukan faktor penentu
Oleh: Yosef Luky DP, SST, Prakirawan Iklim Stasiun Klimatologi Banjarbaru
Editor: Didik Triomarsidi
BANJARMASINPOST.CO.ID - BEBERAPA bulan terakhir, Indonesia dan bahkan hampir di seluruh dunia dilanda wabah virus Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus Corona. Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir 2019 lalu.
Penyebaran virus yang belum ditemukan penawarnya itu hingga kini tak terkendali. Sudah lebih dari 200 negara di dunia melaporkan adanya kasus terpapar virus corona. Dengan kondisi tersebut WHO sebagai organisasi kesehatan dunia meningkatkan status Covid-19 menjadi pandemi.
Ratusan ribu orang di seluruh dunia sudah menjadi korbannya. Itulah mengapa sangat penting untuk benar-benar mengetahui apa yang dimaksud dengan virus Corona.
Seperti dikutip dari World Health Organization (WHO), virus Corona berasal dari Coronaviruses (CoV) yang menyebabkan penyakit mulai dari flu biasa hingga yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV).
Sedangkan untuk Novel Coronavirus (nCoV) adalah jenis baru yang belum diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus Corona merupakan zoonosis, artinya ditularkan antara hewan dan manusia.
Menurut penyelidikan yang telah dilakukan, SARS-CoV ditularkan dari kucing luwak atau yang lebih dikenal dengan musang ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia. Namun beberapa virus Corona juga dikenal beredar pada hewan-hewan yang sebelumnya belum pernah menginfeksi manusia.
Di Indonesia sendiri kasus ini pertama kali ditemukan pada dua warga Depok, Jawa Barat awal Maret lalu. Data hingga Selasa, 31 Maret 2020 jumlah warga yang dinyatakan positif terkena virus corona mencapai 1.528 orang dan 136 diantaranya meninggal dunia.
Cepatnya penyebaran virus ini di Indonesia menurut Juru Bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto karena banyak warga yang tak mengikuti imbauan untuk tetap di rumah.
Yuri menyebutkan, peningkatan jumlah kasus positif menjadi seribuan di Indonesia karena terjadi penularan di luar (rumah warga). Padahal pemerintah menginstruksikan masyarakat salah satunya untuk melakukan social distancing atau menjaga jarak.
Bila instruksi ini tidak dipatuhi, risiko penularan akan membesar. Virus Corona sendiri menular lewat lendir (droplet) manusia positif Covid-19 yang meloncat ke manusia negatif Covid-19. Lendir itu terciprat saat manusia positif Covid-19 bersin, batuk, atau berbicara lalu terkena orang lain yang negatif.
Covid-19 atau Corona menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Kasus tersebut menyebabkan WHO mengubah statusnya dari endemi menjadi pendemi. Wabah ini belum dapat dipastikan kapan akan berakhir.
Meski kerap muncul spekulasi, musim panas akan mematikan virus Corona. Mengamati beberapa penyakit infeksi lainnya, umumnya berkaitan dengan musim. Contohnya flu, yang kerap muncul pada musim dingin. Berbeda dengan tifus yang memuncak pada musim panas.
Campak kebanyakan terjadi pada musim beriklim sedang dan kemarau. Ada bukti kuat menyatakan, kelembapan bisa berdampak lebih besar pada kerentanan manusia terhadap penyakit. Ketika udara sangat kering, diperkirakan mengurangi jumlah lender yang melapisis paru-paru dan saluran udara. Sekresi lengket membentuk pertahanan alami terhadap infeksi dan dengan sedikit infeksi, manusia lebih rentan terhadap virus.
Bagaimana dengan Indonesia?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ilustrasi-virus-corona-sudah-2-juta-lebih-orang-di-dunia-terinfeksi-virus-corona.jpg)