Opini Publik

Cuaca, Iklim dan Covid-19

Cuaca dan iklim hanya memberikan faktor pendukung untuk kasus virus corona berkembang atau naik, tapi bukan faktor penentu

Editor: Didik Triomarsidi
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi virus corona. Sudah 2 juta lebih orang di dunia terinfeksi virus corona. 

Indonesia sebagai negara Kepulauan di Equator (pada garis Lintang Rendah) dengan suhu udara rata-rata 27 - 30°C dan kelembapan tinggi (70 persen - 95 persen) pada bulan Januari hingga Februari 2020 yang lalu, merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak (wabah) Covid-19 di Gelombang 1.

Tetapi dengan kondisi cuaca tersebut cenderung mendukung kenyamanan dan mobilitas penduduk, di mana kondisi seperti ini mendukung penyebaran Covid-19 dari individu ke individu lainnya.

Cuaca dan iklim hanya memberikan faktor pendukung untuk kasus penyakit ini berkembang atau naik, tapi bukan faktor penentu (jumlah kasus), dengan kata lain kontrol atau pengaruh iklim itu pada dasarnya akan kecil kalau sudah terjadi outbreak.

Dinamika jumlah kasus setelah outbreak lebih disebabkan oleh transmisi dan mobilitas antar penduduk (semakin padat penduduk, suatu wilayah semakin rentan). Dari kondisi cuaca / iklim serta kondisi geografi kepulauan, sebenarnya wilayah Indonesia lebih rendah risikonya untuk berkembangnya Covid-19.

Namun fakta menunjukkan terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia mulai bulan Maret 2020 (Gelombang ke-2). Kejadian ini lebih dikontrol oleh faktor “noncuaca” (nonsuhu dan kelembapan udara), yang diperkirakan terutama oleh pengaruh “social behavior” (perilaku sosial) dan mobilitas sosial.

Pengaruh faktor cuaca dan iklim di Indonesia yang akan transisi ke musim kemarau terhadap penyebaran dan jumlah kasus Covid-19 masih perlu dikaji lanjut secara komprehensif, namun pada statusnya saat ini, faktor cuaca dan iklim kecil pengaruhnya terhadap variasi spasial penyebaran maupun severity/jumlah kasus Covid-19.

Rekomendasi dan Langkah Antisipasi

Iklim ikut berperan karena mempengaruhi stabilitas virus di luar tubuh manusia ketika dikeluarkan dengan batuk atau bersin. Semakin besar waktu virus tetap stabil di lingkungan, semakin besar kapasitasnya untuk menginfeksi orang lain dan menjadi epidemi.

Memasuki masa pancaroba (peralihan dari musim hujan 2019/2020 ke musim kemarau 2020) dalam waktu beberapa minggu ke depan biasanya berdampak terhadap penurunan stamina/daya tahan tubuh manusia.

Oleh karena itu perlu upaya individual untuk penguatan daya tahan tubuh untuk memperkuat ketahanan melawan Covid-19. Dengan mulainya musim kemarau pada bulan April 2020 di beberapa wilayah di Indonesia (dengan suhu udara rata-rata 28-32°C dan kelembapan berkisar 60-80 persen), dan puncaknya pada bulan Agustus (dengan suhu udara rata-rata 27 - 32°C, dan kelembapan berkisar 50-80 persen), diharapkan dapat lebih kuat berpengaruh dalam menurunkan risiko penyebaran Covid-19 di ruang terbuka, apabila mobilitas sosial benar-benar dapat diminimalkan.

Terakhir, semoga wabah virus ini segera berakhir dari dunia dan khususnya di Indonesia dan kita semua senantiasa selalu diberikan kesehatan. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved