Opini

Haji dan Pandemi Covid-19

Penundaan pelaksanaan ibadah haji dalam Islam sebenarnya bukanlah perkara yang baru, bahkan sepanjang sejarah tercatat sebanyak 40 kali

AFP/ABDEL GHANI
Suasana kosong dari para jemaah di area sekitar Ka'bah di dalam Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Kamis (5/3/2020). 

Editor: Royan Naimi

Oleh: Faisal Mubarak Seff, Akademisi UIN Antasari/ Mantan Staf Konsul Haji RI Jeddah 2005

BANJARMASINPOST.CO.ID - Semenjak merebaknya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid 19) membuat kehidupan dunia semakin tidak menentu dan dihantui krisis berkepanjangan yang terburuk sepanjang sejarah. World Health Organization (WHO) mencatat hingga kini 6.36 juta orang terinfeksi virus corona dengan 2.9 juta dinyatakan sembuh.

Angka ini terus meningkat di belahan dunia, tak terkecuali di Negara kita tercinta Indonesia yang saat ini tercatat 26.490 kasus yang terkonfirmasi dengan kesembuhan 7.637 jiwa dan kematian 1.641 jiwa.

Sebagai sebuah pandemi global musibah ini memorakporandakan berbagai lini dan sektor kehidupan manusia baik ekonomi, sosial, budaya dan pariwisata serta keagamaan yang ditandai dengan penutupan tempat-tempat ibadat di seluruh dunia dan juga penangguhan pelaksanaan ibadah umrah dan haji tahun 2020 yang telah diumumkan beberapa Negara seperti Indonesia, Singapura serta beberapa negara yang lain.

Sebagai Negara besar yang berdaulat, Indonesia sangat berkepentingan dalam isu ini mengingat sebagai Negara dengan jumlah kouta hajinya mencapai 230 ribu yang saat ini masih bertungkus lumus dalam menangani wabah corona yang masih melanda dunia ditambah lagi dengan belum adanya keputusan resmi tentang pelakasanaan ibadah haji tahun 1441 H dari otoritas kerajaan Arab Saudi. Meskipun dua hari terakhir ini beberapa media negera tersebut telah memberitakan tentang pemberlakuan al audah ila Al hayat At thobiiyyah atau yang lebih dikenal dengan new normal.

Hal ini ditandai dengan dibukannya pelayanan publik secara terbatas dan juga dibukannya seluruh masjid untuk pelaksanaan sholat berjamaah dan juga ibadah Jum’at (selain Masjidil Haram di Makkah) tentunya dengan menerapakan protokol kesehatan yang ketat.

Keputusan Berat

Jika kita sedikit melihat kebelakang bahwa kerajaan Arab Saudi sesungguhnya sudah banyak berkorban sejak Maret lalu, negara yang dipimpin oleh yang mulia pelayan dua kota suci raja Salman bin Abdul Aziz dengan kebijakan yang sangat berani dan tidak mudah untuk menagguhkan umrah, menutup dua kota suci Makkah dan Madinah dan seluruh kota yang ada di Arab Saudi serta menutup semua rute penerbangan domestik dan internasional dari dan ke Arab Saudi.

Semua pengorbanan itu dilakukan demi keselamatan jutaan umat manusia penjuru dunia dari virus Corona. Langkah tersebut merupakan sebuah penyelamatan dan pengorbanan yang patut mendapat respek penghargaan dan apresiasi setingi-tingginya dari masyarakat dunia.

Halaman
12
Editor: Royan Naimi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved