Breaking News:

Jendela

Liburan di Masa Pandemi

Anda mau liburan ke mana akhir tahun ini? Yang pasti, Covid-19 terus mengintai.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Anda mau liburan ke mana akhir tahun ini? Yang pasti, Covid-19 terus mengintai. Hingga Sabtu, 19 Desember 2020 lalu, jumlah orang yang terkena Covid-19 di Indonesia mencapai 657.948. Kemarin Ahad, Wisma Atlet Jakarta, tempat perawatan pasien positif Corona, tidak lagi mau menerima pasien OTG (orang tanpa gejala) karena sudah hampir penuh. Di Kalimantan Selatan, Sabtu lalu terdapat 78 kasus baru sehingga total kasus Covid-19 mencapai 14.495. Ini semua tak boleh dianggap remeh!

Untuk mencegah penularan Covid-19 akibat liburan akhir tahun, pemerintah telah mengambil langkah-langkah strategis. Pertama, mengurangi jumlah hari libur nasional dan cuti bersama. Tanggal 28-30 Desember 2020 yang semula diliburkan, dibatalkan. Kedua, mewajibkan pengunjung ke kota-kota tujuan wisata seperti Jakarta, Bali, Yogyakarta dan Malang, untuk melakukan tes antigen. Tarif tertinggi untuk tes antigen juga ditetapkan, yaitu Rp 250 ribu di Jawa dan Rp 275 ribu di luar Jawa.

Masih tetap semangat ingin liburan? Boleh saja. Libur adalah jeda untuk istirahat, dan itu alamiah. Badan dan pikiran kita tak mungkin bekerja tanpa henti. Mungkin ini sebabnya, Bibel (Kejadian 2) menyebutkan secara simbolik bahwa Tuhan menciptakan alam semesta selama enam hari dan pada hari ketujuh, Sabtu, Dia ‘beristirahat’. Dalam Alqur’an ada kata subât yang seakar dengan sabt juga berarti istirahat, wa ja’alnâ naumakum subâtâ (Kami jadikan tidurmu sebagai istirahat) (QS 78: 9).

Kalau liburan hanya berarti istirahat dari kerja dan rutinitas, maka setiap kita memerlukannya. Yang menjadi soal adalah, bagi manusia modern, khususnya orang kota kelas menengah, liburan tidak sekadar istirahat. Orang menyebutnya piknik, yaitu “bepergian ke suatu tempat di luar kota untuk bersenang-senang dengan membawa bekal makanan dan sebagainya.” Kadang disebut juga tamasya dari kata Arab masyâ, artinya “jalan-jalan menikmati pemandangan dan keindahan alam.”

Jika liburan adalah piknik dan tamasya, maka liburan bukan saja keluar rumah, tetapi ke luar kota, ke luar provinsi bahkan ke luar negeri. Orang menyebutnya pula dengan rekreasi, serapan dari kata Inggris recreation dari re-creation, menciptakan kembali, menyegarkan ulang badan dan pikiran. Liburan adalah hiburan. Liburan adalah keluar atau bahkan lari dari kebosanan. Liburan adalah kesempatan untuk bebas-lepas dari tekanan hidup yang menghimpit penuh persaingan.

Lebih penting lagi, liburan adalah gaya hidup. Liburan menunjukkan nilai-nilai dan pola konsumsi kelas sosial tertentu. Berlibur keliling Eropa tentu tidak sama dengan berlibur ke Bali, apalagi hanya di provinsi sendiri. Bagi yang rada ‘Islami’, mereka berlibur dengan pergi umrah, dilanjutkan wisata ke Turki, Yordan dan/atau Mesir. Liburan seperti ini tidak hanya menghibur hati tetapi juga menunjukkan siapa Anda dan kelas sosial Anda. Anda tentu bisa memamerkannya di medsos!

Namun, kita perlu ingat, gaya hidup itu bukanlah keharusan. Namanya juga gaya! Jika tidak hati-hati, orang bisa memaksakan diri atau berlebihan. Kadangkala, demi liburan orang mau berhutang. Pulang liburan, bukannya hati senang, tetapi malah gersang karena dililit hutang. Besar pasak daripada tiang. Di sisi lain, orang kaya dan mampu kadang menghabiskan uang secara berlebihan untuk hal-hal yang tidak berguna bahkan merusak hidupnya. Liburan akhirnya menjadi sumber petaka.

Karena itu, kita perlu kembali ke asal, yakni bahwa hakikat liburan adalah istirahat dari rutinitas. Saya teringat masa kecil di kampung, ketika liburan kami nikmati dengan bermain bersama teman-teman. Entah main kelereng, main layang-layang, sepakbola atau sekadar mandi di sungai. Di masa liburan, saya juga sering pergi memancing ke sungai atau ke sawah. Kala itu tak terbayang bagi saya bisa bertamasya atau piknik. Kami menjalani libur apa adanya. Tak ada gaya, apalagi gaya-gayaan!

Alhasil, berbagai pembatasan liburan akibat Covid-19 selayaknya mendorong kita untuk berpikir. Mungkin, kini saatnya kita menengok ke dalam, setelah hidup kita terus-menerus mengarah ke luar. Mungkin kini saatnya kita menyendiri, setelah hidup kita terus-menerus terhubung ke dunia luar melalui gawai. Bukankah ayat-ayat Tuhan itu tidak hanya di alam semesta tetapi juga di dalam diri kita dan kitab suci, bahkan di dalam berbagai tulisan para ilmuwan dan cendekiawan yang bijaksana? (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved