Breaking News:

Jendela

ANTARA SABAR, SAINS DAN DOA

Kemarin, Sabtu 9 Januari 2021, Sriwijaya Air penerbangan Jakarta-Pontianak, jatuh di Kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta

UIN Antasari Banjarmasin
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Banjarmasin Prof Mujiburrahman 

Oleh : Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kemarin, Sabtu 9 Januari 2021, Sriwijaya Air penerbangan Jakarta-Pontianak, jatuh di Kawasan Kepulauan Seribu, Jakarta. Pesawat nahas itu mengangkut 62 orang yang terdiri dari 50 penumpang (40 dewasa, 7 anak-anak dan 3 bayi) dan 12 awak pesawat. Diduga pesawat itu jatuh dari ketinggian ribuan kaki. Nelayan mengaku mendengar dentuman keras dan Basarnas telah menemukan puing-puing pesawat, serpihan pakaian dan tubuh korban di perairan area jatuh pesawat.

Bencana demi bencana datang silih berganti. Pandemi Covid-19 masih menghantui kita, bahkan kini di Jawa dan Bali kasusnya semakin naik. Sekarang curah hujan juga tinggi, yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir di berbagai daerah. Dalam suasana demikian, datang lagi bencana baru: kecelakaan pesawat. Bagai kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tetapi apa mau dikata, musibah adalah musibah. Itu kenyataan. Tak banyak guna berkeluh kesah belaka.

Sebagai manusia kita menyadari tiga dimensi waktu: masa lalu, sekarang dan masa depan. Kita tidak bisa mengubah yang terjadi di masa lalu. Yang bisa kita lakukan adalah menata perasaan dan pikiran agar tidak tenggelam dalam kesedihan, dan menerima kenyataan pahit dengan ikhlas. Inilah yang disebut sabar. Sabar itu mudah dikatakan, berat diamalkan. Semakin cepat kesabaran menguasai pikiran dan perasaan kita, semakin baik. “Sabar itu dibuktikan saat benturan pertama,” kata Nabi.

Upaya kita menata pikiran dan perasaan agar menjadi sabar adalah kekinian kita yang terhubung dengan masa lalu kita. Namun hal ini belum cukup. Kita harus menghadapi dan menangani berbagai akibat yang ditimbulkan oleh suatu musibah. Pencarian korban dan memberikan bantuan moril dan meteril kepada keluarga yang ditinggalkan adalah bagian dari kekinian itu. Memberikan informasi yang akurat dan transparan juga termasuk di dalamnya. Tampaknya kita telah melakukan semua ini.

Yang tak kalah penting adalah masa depan. Bagaimanakah agar musibah serupa tidak terulang lagi? Kita harus mencegahnya. Di sini diperlukan kecermatan ilmiah untuk mengkaji berbagai tali-temali sebab-akibat. Apakah pesawat jatuh karena cuaca, kerusakan mesin atau kesalahan pilot? Jawaban terhadap pertanyaan ini jelas tidak bisa cepat, tetapi wajib diupayakan. Meskipun nanti tidak ada jawaban yang pasti, minimal kita mendapatkan penjelasan yang bersifat kemungkinan besar.

Pada 29 Oktober 2018 lalu, Lion Air juga mengalami kecelakaan. Apakah penyebabnya sama atau berbeda dengan Sriwijaya Air kali ini? Jika sama, berarti kita tidak belajar dari kesalahan terdahulu. Jika berbeda, berarti kita kurang antisipatif. Menurut Chappy Hakim di Kompas (10-1-2021), terkait kondisi pandemi, Badan Penerbangan Federal AS telah mengingatkan bahwa B-737 dengan berbagai variannya “berpotensi mengalami engine fail sebagai akibat lebih dari tujuh hari tidak diterbangkan.”

Bersikap ilmiah dan berbasis kenyataan dalam memahami kejadian, bukan berarti mengabaikan kekuasaan Tuhan. Bagi kaum beriman, hukum sebab-akibat di alam semesta ini tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi diciptakan Tuhan. Hukum alam adalah kehendak Tuhan. Melawan hukum alam berarti melawan kehendak Tuhan. Justru dengan mempelajari hukum alam, kita dapat mengenali keagungan Sang Pencipta, yang menciptakan alam dalam keteraturan yang indah dan berpaedah.

Di sisi lain, mempelajari hukum alam dan hubungan sebab-akibat di balik suatu peristiwa tidak hanya melahirkan ilmu pengetahuan, melainkan juga kesadaran tentang keterbatasan kita. Semakin banyak yang kita ketahui, semakin banyak pula yang tidak kita ketahui. Karena itu, manusia tidak boleh sombong meskipun sudah tahu banyak hal, dan tidak boleh pula berputus asa karena betapapun sedikit ilmu yang dimilikinya, masih bermanfaat bagi hidupnya dibanding tidak berilmu sama sekali.

Kesadaran akan keterbatasan itulah yang membuat kaum beriman berdoa. Setiap kali pesawat mau lepas landas, pramugari Sriwijaya Air biasanya mengingatkan para penumpang agar berdoa menurut agama masing-masing. Saya kira, penerbangan SJY 182 kemarin juga demikian. Kita bisa mengatakan bahwa doa mereka tidak dikabulkan. Namun hakikat doa adalah suatu pengakuan akan keterbatasan diri, kerendahan hati dan kepasarahan. Dalam artian ini, doa mereka tidaklah sia-sia.

Alhasil, perlu ada sinkronisasi antara sabar, sains dan doa. Dalam menerima kenyataan yang tak bisa diubah, orang harus sabar. Dalam upaya memahami peristiwa yang terjadi, orang harus ilmiah. Dalam mengakui keterbatasan diri, orang harus berdoa. (*)

Editor: Hari Widodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved