Breaking News:

Jendela

Gerakan Anak Muda NU

Gerakan Gusdurian adalah jaringan yang tidak hanya menaungi anak-anak muda NU tetapi juga para penerus cita-cita Gus Dur

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Oleh Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Minggu lalu, seorang aktivis Jaringan Gusdurian menghubungi saya, mengatakan bahwa akan ada bantuan kemanusiaan untuk para korban banjir di Kalimantan Selatan. Bantuan itu dari berbagai sumber, lintas agama dan identitas. Saya sungguh terharu, dan mencoba sedikit membantu dengan meminta para aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komasariat UIN Antasari untuk bergabung.

Gerakan Gusdurian menarik untuk dicermati. Ia adalah jaringan yang tidak hanya menaungi anak-anak muda NU tetapi juga para penerus cita-cita Gus Dur yang bersifat lintas agama. Gus Dur dan NU memang nyaris identik. Dia bukan hanya cucu pendiri organisasi ulama tersebut, tetapi juga salah satu pemimpinnya yang berhasil melakukan berbagai terobosan. NU yang diperjuangkan Gus Dur adalah NU yang terbuka dan melindungi yang lemah atas dasar nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan.

Mungkin gerakan Gusdurian bisa dilihat sebagai pergeseran. Ketika Gus Dur memimpin NU di masa Orde Baru, para aktivis, khususnya aktivis PMII, tidak hanya berdemonstrasi, tetapi juga mengkaji wacana Islam kritis dan teori sosial. Kala itu, aktivis banyak yang suka membaca buku, berdiskusi dan menulis. Hal ini antara lain karena pintu politik sangat sempit, sehingga energi mereka disalurkan ke wacana intelektual. Sebagian mereka akhirnya mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Ketika Orde Baru jatuh, pintu politik terbuka lebar. Para aktivis mulai masuk ke kancah politik. Akibatnya, para junior yang menjadi aktivis di Era Reformasi banyak yang turut membantu para seniornya yang bekerja di dunia politik. Lama-lama wacana intelektual tidak lagi menarik. Sudah maklum, dengan membaca buku dan berdiskusi saja orang tidak bisa mendapatkan kekuasaan. Sebagian aktivis masih bertahan di LSM, tetapi kebanyakan sudah tidak tertarik lagi ke dunia itu.

Perluasan ruang publik akibat media sosial menimbulkan pengaruh yang lain lagi. Jika dulu pengaruh kaum cendekiawan sangat besar karena nyaris hanya mereka yang menulis atau berbicara di media, maka sekarang setiap orang bisa menampilkan diri di media sosial. Otoritas cendekiawan mulai mengalami degradasi. Hal ini diperparah lagi oleh budaya yang tercipta di media sosial, yakni serba instan, pendek dan kurang reflektif. Orang makin malas membaca artikel panjang, apalagi buku.

Di sisi lain, pengaruh neo-liberalisme dalam ekonomi dan politik semakin kuat. Demokrasi kita adalah demokrasi liberal, yang menekankan kebebasan individu, sementara ekonomi kita juga sangat berorientasi kepada pasar. Jika di masa Orde Baru masih ada diskusi tentang kapitalisme dan sosialisme, maka sekarang sepertinya orang sudah menerima neo-liberalisme ekonomi ‘apa adanya’. Agama juga sudah jarang dibenturkan atau justru ‘diselaraskan’ dengan kecenderungan yang ada.

Dalam situasi yang demikian, alih-alih berdiskusi berbuih-buih, orang lebih ingin melihat bukti, yakni keterlibatan langsung dalam persoalan-persoalan nyata di masyarakat. Kedermawanan adalah salah satu wujud keterlibatan sosial yang nyata itu. Buat apa kita mengkritik ekonomi neoliberal jika orang-orang terlantar dan miskin tidak kita bantu? Apalagi, bantuan negara neo-liberal tidak bisa diharapkan sepenuhnya. Masyarakat harus turun tangan. Jika tidak, banyak yang tidak tertolong.

Di sisi lain, ada kekhawatiran, makin lama orang akan makin kurang reflektif. Orientasi kekinian tentu penting dan mendesak, tetapi pemikiran jangka panjang juga penting. Mungkin ini sebabnya, anak-anak muda NU sekitar lima tahun terakhir semakin banyak yang menekuni publikasi daring. Pengajian daring pun semakin banyak pula. Mereka berusaha menciptakan konten-konten yang mendidik dan mencerdaskan. Pembaca dan pengikut publikasi daring tersebut juga makin banyak.

Perkembangan ini tentu menggembirakan. Hanya saja, kita belum melihat geliat ini menyeluruh di seantero negeri. Masih perlu dilihat, seberapa kuat gerakan kedermawanan dan literasi anak-anak muda NU ini dapat mengimbangi orientasi politik yang makin kental hingga sekarang.

Selamat Harlah NU ke-95! (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved