Ekonomi dan Bisnis
VIDEO Kadis Perindustrian Kalsel Sebut Sektor Ini Potensi Jadi Hilirisasi Industri
Karet, CPO dan batu bara berpotensi jadi hilirisasi industri di Provinsi Kalsel karena bahan bakunya banyak dan sudah ada sarang pendukung.
Penulis: Nurholis Huda | Editor: Alpri Widianjono
Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ada empat sektor unggulan industri Kalimantan Selatan yang bisa dihilirisasi guna peningkatan perekonomian.
Kepala Dinas Perindustrian Kalsel, Mahyuni, Rabu (17/3/2021), di sela pertemuan perencanaan pembangunan menjelaskan, potensi yang pertama ada di karet yang diproduksi setengah jadi. Totalnya 15 ribu ton per bulan.
Kemudian Crude Palm Oil (CPO), di Provinsi Kalsel setiap hari bisa menghasilkan 2.000 ton per jam.
"Untuk CPO, ini sudah diolah menjadi hilirisasi industri, yakni menjadi industri minyak goreng di Kabupaten Kotabaru," urai Mahyuni.
Baca juga: Pemprov Kalsel Bantu 5.000 Rapid Test Antigen untuk Pemko Banjarmasin, Digunakan untuk Sasaran Ini
Baca juga: VIDEO Dana Hibah Rumah Ibadah di Kalsel Bakal Ditambah Hingga Rp 3 Miliar
Bahan baku ketiga, sambung Mahyuni, yakni batu bara. Cadangan miliaran ton. Bila diubah hilirisasi, bisa menjadi metanol dan diturunkan lagi menjadi LPG.
"Kita (Kalsel) masih ketergantungan LPG dari negara luar. Jika bisa dioptimalkan, maka bisa menurunkan ketergantungan impor LPG di Kalsel," tandasnya.
Selain itu, sambung Mahyuni, hilirisasi batu bara juga diubah menjadi bijih besi, plastik, pupuk yang diolah menjadi amoniak.
"Hilirisasi batu bara di Kalsel yang dilakukan, yakni ada smelter di Kabupaten Kotabaru yang mengolah bijih besi. Investasinya disiapkan oleh Badan investasi Nasional dan Kalsel menyiapkan kajian jasa konsultan ke arah baja karbon dan baja paduan," urainya.
Baca juga: Ditlantas Polda Kalsel Siapkan Pelayanan SIM, STNK dan BPKB Secara Daring, Begini Persiapannya
Baca juga: VIDEO Balai Karantina Pertanian Kelas I Banjarmasin Musnahkan Ribuan Benih Buah Sayuran Impor Ilegal
Sementara itu, Pj Gubernur Kalsel Safrizal ZA, mengatakan, perlu rumusan untuk jenis-jenis industri yang harus diprioritaskan. Karena, tidak bisa semua sektor diprioritas, sebab akan mengurangi bahan baku.
“Harus prioritas di beberapa sektor agar bisa fokus, termasuk penetapan industri turunannya,” ujarnya.
Potensi bahan baku, bahan penolong dan tenaga kerja, perlu dipetakan untuk ditetapkan sebagai skala prioritas.
Setelah ada skala prirotas ujarnya, baru dirumuskan di tingkat provinsi hingga industri yang direncanakan, seperti olahan tepung tapioka atau industri turunan kelapa sawit. Bila hanya di tingkat kabupaten/kota, tidak bisa berskala besar.
Baca juga: Setelah Batu Bara, Perusahaan Perkebunan Juga Bakal Bongkar Muat di Pelabuhan Pelaihari
Baca juga: Kalsel Sumbang 3,5 Persen Produk Minyak CPO Nasional, La Nina Ancam Pasokan Minyak Sawit
Tugas lain pemerintah daerah atau dinas terkait, supaya memberikan kemudahan berinvestasi, pemberian insentif dan promosi-promosi serta pembinaan pada pelaku usaha, melalui kegiatan workshop, seminar, pelatihan dan sebagainya.
Semampu mungkin, tidak ada impor atau penjualan bahan mentah. Justru, mengoptimalkan bahan olahan lokal yang diyakini jauh memberikan nilai tambah bagi pelaku usaha daerah. “Ditambah inovasi dan memperhatikan pengemasan yang baik,” pesannya.
(Banjarmasinpost.co.id/Nurholis Huda)