Breaking News:

Jendela

Lebaran dan Perubahan

Lebaran selalu menyuguhkan tanda-tanda perubahan, tiap tahun ada lebaran di akhir Ramadan, tetapi yang kita alami tidak akan persis sama

istimewa
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari 

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Mujiburrahman, Rektor UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - “LEBIH enak lebaran waktu dulu, kala masih kanak-kanak, dibanding sekarang. Sebab, dulu aku diberi uang oleh orangtua, sedangkan sekarang, aku yang harus memberi uang kepada anak-anak,” kata si Palui, Kabayannya orang Banjar.

Meski bercanda, ungkapan si Palui di atas mengandung pesan serius, yakni bahwa lebaran selalu menyuguhkan tanda-tanda perubahan. Tiap tahun ada lebaran di akhir Ramadan, tetapi yang kita alami tidak akan persis sama. Sebagai makhluk hidup, kita tumbuh dewasa, tua hingga meninggal dunia. Itu sudah hukum alam. Ada lebaran ketika kita dapat bersimpuh di depan kedua orangtua. Namun ada pula saat ketika kita hanya bisa menziarahi kubur mereka. Ada saat ketika kita dapat berkumpul bersama keluarga di Hari Raya, dan adapula saat ketika kita harus berpisah.

Krisis Covid-19 membuat perubahan menjadi lebih radikal. Tahun 2020, karena kita belum mengenal betul apa dan bagaimana virus ini, dan belum juga ada vaksinasi, maka hampir semua orang, terutama di kota-kota, tidak melaksanakan salat Idulfitri berjemaah di masjid atau lapangan. Masing-masing keluarga melaksanakannya di rumah saja. Tahun 2021, kebanyakan masyarakat sudah melaksanakan salat idulfitri di masjid, meskipun harus tetap menjaga protokol kesehatan. Perubahan yang tak lazim ini tentu saja berpengaruh terhadap suasana batin kita.

Karena khawatir akan penularan Covid-19, pada lebaran 2020 dan 2021 pemerintah melarang orang mudik. Ada kesan bahwa pada 2020 kebanyakan orang masih dapat menerimanya. Mungkin karena larangan itu dianggap sementara. Ketakutan pada Covid-19 saat itu juga lebih besar. Pada 2021, perlawanan terhadap larangan itu bermunculan, meskipun pemerintah juga bersikap lebih tegas. Orang mungkin sudah bosan dengan krisis yang tak jelas ujungnya ini. Ada kerinduan ingin kembali seperti biasa. Ada kemarahan atas keadaan yang serba terbatas.

Mungkin sudah watak manusia yang cenderung menolak suatu perubahan dari kebiasaan. Padahal, dalam keadaan normal pun, Ramadan adalah jeda untuk mengingatkan kita tentang suatu perubahan. Selama sebulan, kaum Muslim menjalani hidup secara berbeda. Ia harus bangun sahur, siang menahan lapar dan haus, tetapi tetap harus berkegiatan. Magrib baru makan-minum, dan malam beribadah. Idulfitri adalah perayaan di akhir perubahan itu, untuk kembali normal seperti biasa. Kita layak bergembira karena berhasil melewati perubahan itu dengan baik.

Hanya saja, karena Ramadan dan Idulfitri itu berulang setiap tahun, perubahan yang kita rasakan tidak kita anggap istimewa. Virus Corona telah membuat perubahan itu menjadi ganda, sehingga kita lebih merasakannya. Mungkin memang demikian watak manusia. Sesuatu yang terjadi berulang kali akan dianggap biasa, berlalu begitu saja. Padahal, setiap hari bahkan setiap detik, perubahan terus terjadi di alam semesta ini. Pagi hari ini, tidak sama dengan pagi kemarin. Lihatlah susunan awan, apakah persis sama dengan kemarin? Lihatlah diri kita yang makin menua. Bukankah ini nyata?

Perubahan adalah tanda bahwa alam semesta ini, termasuk diri kita, adalah fana, baru dan nisbi. Kita datang dari ketiadaan menjadi ada, dan kelak akan tiada pula dari muka bumi ini. Kita adalah wujud nisbi, yang keberadaannya tergantung pada yang lain, tidak mandiri, tidak berdiri sendiri. Perubahan adalah peringatan bahwa waktu takkan pernah bisa berkompromi. Yang lalu takkan kembali. Tugas kita adalah mengisi hidup dalam waktu yang tersisa. Suka dan duka adalah tabiat hidup. Tugas kita adalah menjalaninya dengan penuh tanggung jawab, diiringi rasa syukur dan sabar.

Di sisi lain, meskipun perubahan terus terjadi, perubahan itu berada dalam kerangka besar yang kurang lebih tetap, sebagai wujud dari kehendak Dia Yang Absolut, yaitu hukum alam yang berlaku di alam semesta, dan hukum moral yang secara khusus berlaku bagi manusia. Mungkin itu sebabnya, akhir Ramadan disebut idulfitri, yang dalam bahasa Arab dapat diartikan kembali kepada fitrah, asal kejadian diri yang suci dan sejati. Fitrah adalah wujud asli kemanusiaan kita, yang mencintai kebaikan, kebenaran dan keindahan. Kembali kepada fitrah berarti kembali memanusiakan diri kita.

Selamat Idulfitri. Selamat kembali bekerja, mempersembahkan yang terbaik bagi sesama. (*)

Editor: Eka Dinayanti
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved