Breaking News:

Opini Publik

Terbatasnya Belajar pada PTM Terbatas

Data Kemenkes RI mengungkapkan anak-anak usia 0-18 tahun merupakan salah satu kelompok yang banyak terpapar dan meninggal karena Covid-19

Editor: Eka Dinayanti

Oleh: Muhammad Ridha, Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Co-Founder Institute for Educational Research and Community Service

BANJARMASINPOST.CO.ID - RENCANA pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) langsung secara terbatas pada awal tahun ajaran 2021/2022 bagi mayoritas wilayah di Indonesia kembali ditunda.
Lonjakan kasus terinfeksi Covid-19 yang signifikan di masyarakat dalam beberapa minggu terakhir menjadi penyebabnya. Hal itu tidak hanya terjadi di wilayah Jawa dan Bali, namun juga di wilayah-wilayah lain di Indonesia, seperti Banjarmasin, Palangka Raya dan sebagainya.

Data Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan bahwa anak-anak usia 0-18 tahun merupakan salah satu kelompok yang cukup banyak terpapar dan meninggal karena Covid-19. Selain itu, ada banyak tenaga pendidik dan tenaga kependidikan yang masih belum divaksinasi secara lengkap. Oleh karena itu, keselamatan pendidik dan peserta didik dinilai lebih utama dibandingkan harus memaksakan untuk melakukan pembelajaran tatap muka secara langsung di sekolah.

Kendati kebijakan pembelajaran secara daring ini sudah lebih satu tahun diimplementasikan, walakin terus menjadi topik hangat hingga hari ini. Ada keinginan dan kekhawatiran yang saling bertolak belakang sehingga membuat pelaksanaan pembelajaran tatap muka menjadi dilematik.

Disatu sisi ada keinginan besar untuk kembali berinteraksi sosial dan mengikuti proses pembelajaran secara langsung di sekolah, namun disisi lain ada kekhawatiran terkena dampak infeksi Covid-19.

Baca juga: Pengangguran Tercekik Pandemi

Salah satu alasan utama yang menyebabkan munculnya keinginan besar untuk melakukan pembelajaran secara langsung itu karena pembelajaran daring yang telah dilaksanakan sejak Maret 2020 lalu dinilai tidak memiliki tingkat efektivitas yang setara dengan pembelajaran tatap muka secara langsung.

Apakah pada masa pembatasan pembelajaran tatap muka secara langsung ini aktivitas dan hasil belajar pun menjadi terbatas? Padahal ada banyak penelitian yang telah mengungkapkan keunggulan-keunggulan pembelajaran secara daring, bahkan pembelajaran daring yang secara spesifik dilakukan pada masa pembatasan tatap muka secara langsung karena pandemi Covid-19.

Selain kebutuhan psikologis untuk berinteraksi sosial secara langsung dalam proses pembelajaran, kekhawatiran terhadap minimnya capaian pembelajaran yang bisa raih melalui pembelajaran secara daring dan kekhawatiran menurunnya kualitas kompetensi yang telah dikuasai (learning loss) sepertinya menjadi alasan untuk bisa segera melakukan pembelajaran tatap muka secara langsung.

Kesalahpahaman
Pembelajaran dipahami sebagai kegiatan memfasilitasi dan memastikan peserta didik untuk secara aktif memahami informasi dan menguasai keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Oleh karena itu, pembelajaran tidak bisa disederhanakan sekedar menyampaikan konten pembelajaran kepada peserta didik atau sekedar meminta peserta didik untuk mengerjakan soal atau latihan.

Baca juga: Setrum Taper Tantrum

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved