Jendela

Penyembah Berhala Modern

Peradaban modern adalah peradaban mesin, maka kita perlu mempertanyakan, apakah benar kita sudah terbebas dari berhala?

Editor: Hari Widodo
istimewa/mujiburrahman
Profesor Dr H Mujiburrahman MA Rektor UIN Antasari 

Bagi masyarakat modern, latar belakang penyembahan berhala di atas kiranya bisa dipahami, tetapi tetap sulit diterima akal sehat. Bagaimanapun juga, memuja atau menuhankan sesama manusia, entah itu langsung atau melalui perantara berupa patung, tidaklah bisa diterima akal karena manusia, sehebat apapun dia, tetaplah manusia, bukan Tuhan.

Manusia semula tidak ada, lalu ada, dan kemudian kembali tidak ada alias mati. Karena itu, tampaknya manusia modern yang konon sangat rasional, hanya percaya kepada yang masuk akal, bahkan hanya percaya pada yang dapat diindera sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah, tidak akan percaya pada penyembahan berhala. Patung-patung modern dibuat bukan untuk dipuja dan disembah, tetapi sekadar karya seni saja.

Namun, jika kita kembali kepada pandangan Gai Eaton, bahwa peradaban modern adalah peradaban mesin, maka kita perlu mempertanyakan, apakah benar kita sudah terbebas dari berhala? Apakah berhala itu? Berhala adalah sesuatu yang kita ciptakan, kemudian kita tunduk patuh kepadanya.

Jika definisi ini kita sepakati, maka segala macam mesin yang kita ciptakan, yang ternyata membuat kita tunduk, patuh dan tak berkutik, berarti kita hidup dalam penyembahan berhala pula. Yang paling menentukan di sini adalah sikap kita terhadap mesin-mesin atau teknologi canggih yang kita ciptakan itu. Apakah mereka menjadi alat atau tujuan, menjadi pelayan atau tuan?

Sekarang, mari kita renungkan. Apakah ponsel, telivisi, laptop, jam tangan, pesawat, mobil, sepeda motor, mal-mal, supermarket, tempat-tempat hiburan, gedung-gedung dan seterusnya, yang kita ciptakan di zaman modern ini, adalah alat untuk mencapai tujuan kemanusiaan dan ingat akan Tuhan, atau sebagai tujuan itu sendiri?.

Apakah semua benda itu pelayan atau tuan kita? Apakah kita yang memiliki benda-benda itu atau benda-benda itu yang memiliki kita? Tidakkah kita merasa bahwa hidup kita sudah diatur oleh mesin-mesin buatan kita itu? Kapan kita bekerja, istirahat dan bergaul, sangat tergantung pada benda-benda itu.

Lambat laun, kita menjadi laksana mesin. Kita membuang perasaan, pikiran dan sikap kita. Kita menjadi apatis, hidup tanpa tujuan, tanpa makna. Jadi, benarkah manusia modern lebih cerdas dari masyarakat kuno penyembah berhala?(*)

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved