Kampusiana
Etnomedisin pada Masyarakat Kalsel Jadi Bahan Diskusi Para Pakar di UIN Antasari Banjarmasin
Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari menggelar diskusi mengenai herbal untuk pengobatan di masyarakat Kalsel.
Penulis: Mia Maulidya | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Kegiatan Forum Diskusi Terumpun digelar di Aula Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Antasari, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (2/11/2022).
Pembahasannya mengenai Penelitian Eksplorasi Kehidupan Dinamis Pengobatan Tradisional (Etnomedisin) pada Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.
Penyelenggaranya adalah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), bekerja sama dengan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PMB), Organisasi Riset Aerkologi Bahasa dan Sastra, serta Kelompok Riset Bahasa Sastra dan Pemahaman Lintas Budaya (Kerlis).
Dalam diskusi ini mengenai pengobatan tradisional atau Etnomedisin yang masih menjadi pilihan di tengah masyarakat Indonesia.
Baca juga: Pasien DBD di RSUD Ulin Dalam Hitungan Jam Meninggal, Ini Penyebabnya
Baca juga: Kasus Demam Berdarah Meningkat di Kota Banjarmasin, Dua Warga Meninggal
Baca juga: Tewaskan 5 Orang, Tersangka Insiden Kecelakaan di Jalan Gubernur Syarkawi Belum Ditentukan
Umumnya, pengobatan ini dilakukan berdasarkan pengetahuan lokal yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Berbagai racikan ramuan tradisional, mereka nilai mampu menyembuhkan atau mengobati penyakit yang diderita.
Menurut Ketua Tim Penelitian Etnomidisin Masyarakat Kalsel, Budi Agung Sudarmanto, diskusi ini dalam rangka melakukan penelitian terhadap kehidupan pengobatan tradisional yang ada di Kalsel.
"Pendapat dari perserta akan ditampung dan akan dilakukan tahapan eksplorasi, mencari informasi cara dari pengobatan tradisional penggunaan tumbuhan herbal yang ada di Kalsel," ucapnya.
Baca juga: Nyambi Usaha Camilan, Guru Honor di HST Kalsel Ini Berharap Bisa Ikut Mendaftar PPPK Tahun Ini
Baca juga: Ada 669 Kuota untuk Seleksi PPPK di Kabupaten Barito Kuala, Berikut Formasinya
Baca juga: Kuota PPPK Guru di Banjarmasin Sekitar 400 Formasi
Penelitian ini dinamakan tipologi, yaitu membuat kajian dan klasifikasi bahasa menurut ciri strukturalnya,
"Harapan dari hasil dari penelitian adalah akan dibuatkan dalam bentuk kamus atau ensiklopedia," kata dia.
Dengan adanya kamus atau enksiklopedia mengenai pengobatan tradisional, maka akan menjadi wadah informasi yang dapat diberikan kepada penerus generasi selanjutnya.
"Revitalisasi ini sangat diperlukan agar pengobatan secara tradisional itu tetap bisa terus dilestarikan, seperti tumbuhan herbal apabila sudah mulai langka bisa nantinya dicoba sediakan kembali," ucapnya.
Kajian yang dilakukan pihak Brain yaitu mengetahui dan memahami berbagai cara penyembuhan tradisional hasil tersebut diambil dari forum diskusi yang disampaikan dari para peserta yang hadir.
Berdasarkan forum diskusi tersebut, menurut Agung, nantinya diteliti kembali.
"Misal bahasa betetamba dan kepidaraan yang dijelaskan para perserta akan dibuatkan kamusnya dan diterjemahkan serta dijelaskan dalam bahasa Indonesia," imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/foto-bersama-di-lokasi-diskusi-mengenai-pengobatan-tradisional-diUIN-Antasari-Banjarmasin.jpg)