Jendela

Peringatan Koentjaraningrat

Antropolog Koentjaraningrat menyorot lima mentalitet, remehkan mutu, suka menerabas, tak percaya diri, tak berdisiplin murni, tak bertanggungjawab.

Editor: Alpri Widianjono
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman, MA. 

Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN  - SALAH satu yang mencuri perhatian saya di bulan Juni ini adalah pemberitaan Kompas tentang ‘100 Tahun Koentjaraningrat’,

Bapak Antropologi Indonesia yang lahir pada 15 Juni 1923. Saya mengenal tokoh ini hanya melalui buku-bukunya, saat kuliah di IAIN Antasari pada awal 1990-an.

Namun, kesan yang ditimbulkannya cukup dalam. Sebagai santri yang banyak bergumul dengan kitab Arab gundul, bukunya, Pengantar Ilmu Antropologi, telah membantu saya memahami kehidupan manusia sebagaimana adanya dalam kenyataan, bukan sebagaimana seharusnya menurut ajaran agama.

Tapi yang lebih mengesankan lagi adalah bukunya berjudul Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan. Buku yang berisi esai-esai pendek yang semula diterbitkan berseri di Kompas ini diterbitkan pertama kali pada 1974, saat pemerintah Orde Baru giat-giatnya mengkampanyekan pembangunan alias modernisasi.

Salah satu yang menjadi sorotan penting Koentjaraningrat di buku ini adalah mengenai lima mentalitas bangsa Indonesia yang menghambat pembangunan yaitu (1) meremehkan mutu; (2) suka menerabas; (3) tak percaya diri sendiri;(4) tak berdisiplin murni; (5) tak bertanggungjawab.

Setelah Orde Baru runtuh pada 1998 dan Koentjaraningrat wafat pada 23 Maret 1999, apakah lima mentalitas itu masih ada dan bercokol dalam kebudayaan bangsa kita?

Saya khawatir, mentalitas tersebut masih belum banyak berubah.

Apakah kita sudah mementingkan mutu ataukah tampilan, simbol dan formalitas belaka?

Kita pernah menetapkan standar nasional untuk pendidikan sekolah melalui Ujian Nasional. Bukan hanya naskah soal, saat ujian pun dikawal polisi. Anehnya, masih saja terjadi kebocoran soal atau nyontek berjemaah.

Kita punya standar untuk menjadi sarjana hingga guru besar. Kenyataannya, muncul perilaku aneh berupa perjokian hingga obral gelar kehormatan.

Mental suka menerabas, mencari jalan pintas alias budaya instan, bukannya menghilang, melainkan tetap bertahan.  Ingin cepat kaya tanpa kerja keras, para penguasa melakukan korupsi dan para pengusaha bersekongkol dengan mereka.

Orang-orang miskin atau yang masih merangkak naik, malah terjerumus ke jurang pinjaman online dan investasi bodong.

Komputer, internet hingga gawai yang memudahkan manusia dalam bekerja justru disalahgunakan untuk mempercepat kejahatan berupa penipuan, pembobolan akun orang lain hingga penjiplakan karya ilmiah.

Begitu pula, daripada belajar keras menuntut ilmu, sebagian orang lebih suka “membeli” ijazah dan gelar.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved