Jendela
Perjuangan Moral
Banyak muncul cerita yang pesimistis tentang para pemimpin dan kaum elit yang egois, aktivis yang sangat pragmatis.
Oleh: Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Ada empat orang pria yang kini sudah tidak muda lagi. Mereka bertemu setelah cukup lama berpisah Di sebuah rumah makan, mereka berbagi cerita dan informasi.
Entah mengapa, kali ini banyak muncul cerita yang pesimistis tentang para pemimpin dan kaum elit yang egois, aktivis yang sangat pragmatis.
ASN yang malas bekerja dan seringkali bersiasat mendapatkan uang tambahan, dosen yang melakukan penjiplakan karya ilmiah hingga mahasiswa yang malas membaca.
Salah satu dari mereka menceritakan tentang korupsi yang dilakukan oleh seorang aktivis organisasi keagamaan dengan memotong duit kegiatan untuk kepentingan pribadi.
Yang lain lagi bercerita tentang seorang pejabat kampus yang mencari-cari kesalahan saingannya, lalu melaporkannya ke atasan.
Yang lain bercerita tentang Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang suka membuat aduan kepada aparat hukum dengan tujuan memeras.
Yang satu lagi menceritakan pengalamannya tentang seorang aktivis kesenian yang suka mencari-cari proyek pemerintah dan menipu sesama seniman.
Betapa muram rasanya hidup ini. Ada penyesalan mendalam atas berbagai kenyataan pahit di sekitar kita.
Masih adakah harapan, dan apa sikap yang tepat terhadap kenyataan yang mengguncang kesadaran moral ini?
Bagaimanapun, sebagai manusia, kita tak dapat menghindar dari pilihan antara yang baik dan buruk, benar dan salah, dosa dan pahala. Yang salah tetap salah, dan yang benar tetap benar.
Kita bukan setan yang ditakdirkan sebagai kekuatan dosa dan kesalahan. Kita juga bukan malaikat yang selalu taat kepada Tuhan. Kita bebas memilih yang baik atau buruk.
Namun, jika sebuah kerangka moralistik yang ketat itu tidak kita imbangi dengan pandangan realistis tentang hakikat manusia, kita akan sulit keluar dari cengkeraman pesimisme dan putus asa.
Manusia tidak hanya mungkin menjadi orang yang teguh secara moral, tetapi juga memiliki kelemahan-kelemahan dalam dirinya.
Di antara kelemahan manusia itu adalah tidak sabaran, tergesa-gesa, suka berkeluh kesah dan berpandangan jangka pendek.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)