Fikrah
Lari dari Rahmat Allah
Betapa ruginya kita berbagai kenikmatan Allah yang telah kita abaikan dan terlewatkan begitu saja, bahkan tanpa ada rasa syukur sedikit pun di hati
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - DICERITAKAN ada seorang raja yang sulit ditemui. Jika ingin menemuinya harus menunggu lama sekali, baru bisa bertemu setelah melalui prosedur berbelit. Tersebutlah seorang ulama kenamaan yang tidak berhasil menemuinya kendati berbagai cara sudah ia tempuh.
Suatu hari, sang ulama berkata di dalam majelis pengajiannya : “Saya dan raja sama-sama telah lari dari rahmat Allah dan sama-sama memiliki apa yang tidak dimiliki Allah SWT”. Ucapan ini terus ia sampaikan di mana-mana.
Masyarakatpun gempar, ulama panutan mereka nyeleneh. Hal ini sampai kepada raja, lalu ia memerintahkan untuk memanggil sang ulama, karena ucapannya itu meresahkan masyarakat dan amat berbahaya dari segi akidah.
Setelah sang ulama datang memenuhi panggilan raja terjadilah dialog antara keduanya.
Raja : “Benarkah tuan mengatakan bahwa tuan dan saya sama-sama telah lari dari rahmat Allah SWT dan memiliki apa yang tidak dimiliki Allah SWT ? “
Ulama : “Benar, saya telah lari dari rahmat Allah SWT. Suatu hari saya berjalan di jalan raya, tiba-tiba turun hujan lebat, sayapun bernaung ke sebuah rumah. Bukankah hujan adalah rahmat Allah SWT dan karena saya lari dari hujan berarti saya telah lari dari rahmat Allah SWT. Jika tuan kehujanan, apa yang tuan lakukan?”
Raja : “Ya, tentu saja juga akan mencari tempat bernaung”.
Ulama : “Kalau begitu kita sama-sama lari dari Rahmat Allah SWT. Saya mempunyai istri dan anak, sedang Allah tidak memiliki istri dan anak, berarti saya memiliki apa yang tidak dimiliki Allah! Apakah tuan raja beristri dan beranak?”
Raja : “Ya, saya mempunyai istri dan anak”.
Ulama : “Kalau begitu kita sama-sama memiliki apa yang tidak dimiliki Allah SWT. Wahai raja, hal ini saya lakukan hanyalah suatu “helah” untuk dapat bertemu dengan tuan”. Rajapun memahami, lalu berkata : “Apa yang tuan inginkan bertemu dengan saya!
Ulama : “Wahai raja, seandainya seluruh air kering dan raja kehausan yang amat sangat. Bila tidak minum, beberapa saat lagi tuan akan mati. Tiba-tiba ada seseorang menawarkan air, tetapi tuan harus membelinya dengan semua kekayaan yang tuan miliki, apa yang tuan lakukan?”
Raja : “ Air itu akan saya beli kendati dengan semua harta kekayaan saya”.
Ulama : “Wahai raja, kalau begitu alangkah mahalnya segelas air, seharga kekayaan yang tuan miliki. Sudah berapa gelas air yang tuan minum selama ini? Renungkan, berapa banyak kekayaan yang Allah SWT berikan kepada tuan? Sebaliknya, begitu banyak kekayaan yang tuan miliki saat ini, tetapi kekayaan yang tuan miliki itu harganya tidak lebih dari segelas air. Itukah yang tuan banggakan?”.
Sang raja tertunduk meneteskan air mata mendengar ucapan sang ulama yang menjejalinya lagi dengan rentetan ucapan: “Wahai raja, seandainya air yang anda beli dengan semua kekayaan tadi tuan minum, tetapi tiba-tiba tertahan dikerongkongan dan tidak bisa masuk, apa yang tuan lakukan? “.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)