Opini

Lelucon Satiris Indonesia

Kandangkala kita mendengar orang membandingkan Indonesia dengan Malaysia. ulu, katanya, bangsa Malaysia mendatangkan guru-guru dari Indonesia

Editor: Edi Nugroho
istimewa
Prof DR H Mujiburrahman MA 

Oleh:
Mujiburrahman
Rektor UIN Antasari Banjarmasin

KADANGKALA kita mendengar orang membandingkan Indonesia dengan Malaysia.

Dulu, katanya, bangsa Malaysia mendatangkan guru-guru dari Indonesia untuk mengajar di sana. Namun sekarang sudah tidak lagi.

Yang mereka datangkan adalah para pembantu. Apakah ini berarti kualitas orang Indonesia menurun?

Menurut pelawak Cak Lontong, yang terjadi sebenarnya bukanlah penurunan kualitas orang Indonesia, melainkan penurunan selera orang Malaysia. Dulu sukanya pada guru, sekarang pada pembantu!

Baca juga: Jalan Keadilan

Baca juga: Jeritan Pedagang Gorengan di Tanahlaut Pasca Harga Lombok Meroket, Terpaksa Hanya Sajikan Petis

Dalam Kagum kepada Orang Indonesia, Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), lebih satiris dan tajam lagi menulis: “Sesungguhnya dunia besar karena Indonesia.

Cara Indonesia membantu terbangunnya kebesaran dunia tidak dengan menyombongkan dirinya, melainkan dengan merendahkan diri secara luar biasa.

Kita pura-pura miskin, kemudian mengirim jutaan tenaga-tenaga kerja ke luar negeri untuk membangun dunia.

Mereka banyak yang direndahkan di negeri orang, tetapi justru itu yang kita cari. Direndahkan oleh manusia adalah kemuliaan di hadapan Tuhan” (Nadjib 2015: 36).

Menyindir keadaan bangsa kita yang banyak ketinggalan dari bangsa-bangsa lain, Cak Nun menulis: “Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar sehingga tidak membutuhkan kebesaran. Orang yang masih mengejar kebesaran adalah orang yang masih kecil atau kerdil.

Baca juga: Cuaca Bandung dan 32 Kota Senin 30 Oktober 2023, Sedia Payung Medan, Pontianak  dan Banjarmasin

Orang yang masih sibuk mengejar proyek dan kekayaan berarti dia orang miskin. Indonesia tidak pernah mengejar-ngejar kemajuan karena sudah maju. Indonesia tidak pernah bernafsu terhadap kehebatan karena aslinya memang sudah hebat” (Nadjib 2015: 20-21).

Sindiran-sindiran di atas tampaknya lebih ditujukan kepada kaum elit dan pemimpin yang egois dan serakah. Adapun rakyat kelas bawah, justru dinilai Cak Nun sebagai orang-orang kuat yang tahan bantingan, yang sanggup beradaptasi dengan segala keadaan.

Dalam mengungkapkan patah hati sekalipun, kata Cak Nun, orang Indonesia itu mampu bergoyang, seperti ditunjukkan oleh lagu-lagu dangdut.

Apalagi hanya soal kehidupan sehari-hari yang pas-pasan. Orang Indonesia masih bisa haha-hihi, ketawa-ketiwi bersama.

Hal-hal sederhana bisa membuat mereka bahagia.
Terlepas dari perbedaan kelas sosial, orang Indonesia kalau sudah bercengkerama dengan sesama teman, biasanya memang ger-geran.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved