Fikrah
Pedulikah Kamu?
Pembela-pembela kebenaran seharusnya lebih bersemangat lagi karena apa yang disebut “infaq fi sabilillah” akan mendapat nilai berlipat ganda
Oleh: KH Husin Naparin Lc MA Ketua MUI Provinsi Kalsel
BANJARMASINPOST.CO.ID - PAGI itu seorang diplomat Kerajaan Yordania yang bertugas di New York sebagai wakil Kerajaan Yordania di PBB naik taksi menuju kantor tempat ia bekerja. Dalam perjalanan tersebut terjadi dialog antara sopir taksi dengannya.
Sopir taksi bertanya: “Apakah tuan berasal dari Israel?” Sang diplomat menjawab: “Tidak, saya berkebangsaan Arab dan berasal dari Palestina, anda siapa?” Ia menjawab: “Saya berkebangsaan Amerika dan mencintai Israel; kendati saya bukan orang Yahudi, namun setiap bulan saya sisihkan sebagian dari pendapatan saya untuk disumbangkan kepada dompet dana Yahudi.
Tuan-tuan bangsa Arab mengapa bersikeras mengusir orang-orang Israel dari tanah air mereka, coba tuan terangkan sebabnya.”
Sang diplomat pun menerangkan masalah Palestina yang sebenarnya, dan sopir taksi mengangguk-angguk. Ia mengerti sepenuhnya apa yang diterangkan oleh sang diplomat.
Taksi terus meluncur dan akhirnya sampai di depan kantor PBB di mana diplomat itu bekerja.
Sewaktu berpisah, sopir taksi berkata lagi: “Tahukah tuan kemana saya pergi sekarang?” Sang diplomat menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan itu.
Sopir taksi menimpali lagi, katanya: “Saya akan pergi ke kantor dompet dana Yahudi. Saya akan memberikan sumbangan dua kali lipat dari apa yang sudah saya berikan kepada mereka sebelumnya.
Tuntutan tuan adalah tuntutan yang benar, dan kebenaran memilki kekuatan yang ampuh sekali bukti-bukti dalam keterangan yang tuan berikan adalah bukti yang benar.
Cara tuan memberikan penjelasan menakjubkan saya dan meyakinkan sekali. Oleh karena itu tidak mudah mengalahkan tuan-tuan.
Israel tidak akan menang kecuali dengan dana yang berlipat ganda, karenanya kami harus menyumbang berlipat ganda pula.
”Sang diplomat tertegun dan tercengang akan ucapan sopir taksi tadi. Sementara itu taksi meluncur dan menghilang dari pandangan mata. (Harian Asy-Syarq Al-Ausath, London, 4/12/1979)
Apakah yang dapat petik dari peristiwa ini? Sopir taksi itu hanyalah satu contoh salah seorang di antara sekian banyak “orang sana.”
Apa sebenarnya yang mereka cari dan mereka bela? Mereka tidak tahu, kebenarankah ataukah kebatilan; tetapi mereka tidak peduli. Mereka merasa berbuat kebaikan.
Demikianlah, sekian banyak buruh dan pegawai di dunia Barat dengan sukarela gajinya dipotong beberapa persen pada setiap bulannya untuk kepentingan agama mereka, meskipun mereka sendiri tidak mengenal agamanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/kh-husin-nafarin-lc-ketua-mui-kalsel.jpg)