Breaking News

Kolom

Menanti Gagasan Pendidikan di Debat Pilpres

Ini kata pengemat pendidikan Kalsel Nurul Yakin mengenai Debat Polpres 2024 yang akan berlangsung 4 Februari 2024 nanti

Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Nurul Yaqin Guru SMPIT Annur Cikarang Timur, Bekasi. Alumnus Pascasarjana Unsika Karawang 

Oleh: Nurul Yaqin
Guru SMPIT Annur Cikarang Timur, Bekasi. Alumnus Pascasarjana Unsika Karawang

BANJARMASINPOST.CO.ID - DEBAT pemilihan presiden (Pilpres) 2024 telah melewati empat tahap dari lima debat yang diselenggarakan oleh KPU. Debat selanjutnya adalah tahap pamungkas yang akan dilaksanakan pada 4 Februari 2024 dengan salah satu tema yang diusung adalah pendidikan.

Bagi kalangan akademisi, dari sekian banyak tema debat, tentu tema pendidikan menjadi hal yang paling dinanti. Tema lengkap pada debat kelima ini adalah “Kesejahteraan Sosial, Kebudayaan, Pendidikan, Teknologi Informasi, Kesehatan, Ketenagakerjaan, Sumber Daya Manusia, dan Inklusi”.

Isu pendidikan menjadi salah satu prioritas yang kerap digaungkan oleh masing-masing calon di setiap perhelatan pemilihan umum (pemilu). Pasangan calon (paslon) nomor urut satu, Anies-Muhaiman mengusung visi “Mewujudkan manusia Indonesia yang sehat, cerdas, produktif, berakhlak, serta berbudaya”.

Paslon nomor urut dua, Prabowo-Gibran memiliki visi “Memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, pendidikan, kesehatan, prestasi olahraga, kesetaraan gender, serta penguatan peran perempuan, pemuda, dan penyandang disabilitas”. Sedangkan paslon nomor urut tiga, Ganjar-Mahfud mengangkat visi “Menuju Indonesia unggul gerak cepat mewujudkan negara maritim yang adil dan lestari”. Dan visi dari setiap paslon tersebut terdiri dari berbagai misi.

Visi-misi yang sangat memukau diusung untuk menarik suara para pemangku pendidikan. Keberpihakan paslon terhadap pendidikan tentu menjadi daya tarik bagi seluruh komponen pendidikan, khususnya guru.

Formulanya sederhana, paslon yang paling peduli dengan pendidikan, kemungkinan besar akan mendapatkan suara paling besar. Seberapa besar pemilih guru dalam kontestasi pemilu?

Tak Cukup Visi-Misi

Berdasar data Kemendikbudristek pada semester ganjil tahun ajaran 2023/2024 jumlah guru sebanyak 3,36 juta orang. Angka yang cukup menggiurkan untuk meraup suara dalam perhelatan akbar pemilu. Jumlah yang cukup besar ini tentu tidak akan disia-siakan oleh masing-masing paslon.

Janji-janji manis tentang pendidikan tidak lelah disuarakan di setiap kampanye. Narasi-narasi pro-pendidikan ramai disebarluaskan di berbagai media.

Apakah untuk mendulang suara guru cukup dengan visi dan misi pada saaat kampanye? Tentu tidak. Visi dan misi harus didukung dengan gagasan yang memadai sehingga apa yang direncanakan benar-benar tersampaikan secara komprehensif di hadapan publik.

Gagasan-gagasan pendidikan akan terlihat pada debat pilpres terakhir nanti.

Masing-masing calon presiden akan diadu gagasan mengenai pendidikan di Indonesia. Tema pendidikan menjadi perhatian besar karena isu ini merupakan salah satu aspek terpenting dalam pembangunan Indonesia ke depan.

Pendidikan yang berkualitas akan mengangkat derajat bangsa. Atensi paslon terhadap peningkatan pendidikan dengan disertai gagasan-gagasan yang brilian menjadi salah satu langkah awal untuk memajukan kualitas pendidikan di negeri ini.

Namun, di tengah sajian visi-misi pendidikan yang memukau oleh setiap paslon di berbagai kampanye, negeri ini dihadapkan pada suatu fakta akan kualitas pendidikan yang belum banyak beranjak. PISA merilis pada tahun 2022 Indonesia mengalami peningkatan 5-6 dari 2018. Kendati demikian, secara skor mengalami penurunan. Skor literasi membaca merosot sebesar 12 poin dibanding 2018. Literasi sains turun 13 persen.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved