Kolom
Menanti Gagasan Pendidikan di Debat Pilpres
Ini kata pengemat pendidikan Kalsel Nurul Yakin mengenai Debat Polpres 2024 yang akan berlangsung 4 Februari 2024 nanti
Bahkan, matematika dan literasi memperoleh skor terendah selama Indonesia mengikuti survei PISA. Dan rata-rata skor PISA memang mengalami penurunan.
Tidak hanya itu, problema pendidikan bangsa ini sangat kompleks. Konflik warisan masa lalu kerap kali meletup hingga hari ini. Kesejahteraan guru, kenakalan remaja, mininmnya akses pendidikan di daerah tiga T (tertinggal, terdepan, dan terluar), sarana-prasarana yang kurang memadai, kompetensi guru yang rendah, bahkan KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme) di kalangan pendidikan masih menjadi barisan panjang yang harus segera diselesaikan. Gagasan-gagasan dalam debat pilpres untuk mengatasi persoalan di atas diperlukan sebagai komitmen awal untuk perbaikan kualitas pendidikan.
Mencerahkan
Gagasan-gagasan mengenai pendidikan bukan sekadar penyajian teori dan definisi, tapi bagaimana calon presiden menyampaikan ide-ide terbaiknya demi kepentingan seluruh rakyat. Gagasan ini bisa muncul dari visi dan misi yang telah direncanakan, kemudian diimprovisasi sedemikian rupa sehingga mudah dipahami oleh seluruh masyarakat.
Tidak hanya itu, gagasan juga dapat berasal dari kayanya pengalaman calon presiden sehingga dapat tersampaikan dengan jelas dan lugas dalam debat pilpres nanti.
Calon presiden dituntut untuk mencerahkan publik, alih-alih menjatuhkan lawan. Debat adalah ruang dialektika untuk menyampaikan gagasan, bukan sekadar riasan.
Debat pilpres seharusnya berbasis gagasan, program, dan pemecahan masalah yang ada di negeri ini. Sehingga masyarakat dapat mengetahui program dan kebijakan apa saja yang akan diangkat oleh masing-masing kandidat.
Mengaca pada debat-debat sebelumnya, ruang debat belum menjadi media yang mencerahkan publik, akan tetapi berganti menjadi ajang saling menjatuhkan; munculnya pertanyaan-pertanyaan jebakan yang jauh dari substansi, dan tampilan gimmick yang bertolak belakang dengan esensi debat. Akibatnya, rakyat semakin gamang dan geram dengan narasi yang disampaikan. Bahkan, kondisi demikian menjadi kesempatan aji mumpung untuk merendahkan kandidat lawan oleh para pendukung.
Maka dari itu, pendidikan yang menjadi salah satu tema debat pamungkas nanti, para calon presiden harus benar-benar dapat menjernihkan pemahaman masyarakat, bukan mengeruhkan. Gagasan disampaikan untuk mencerahkan, kebijakan disajikan untuk memberikan pemahaman, dan program diutarakan untuk menambah pengetahuan, yang muara dari itu semua adalah pengejawantahan. Karena gagasan, kebijakan, dan program pendidikan pada saat debat tidak hanya menjadi perhatian guru dan para akademisi, akan tetapi juga siswa, para orang tua, dan khalayak umum untuk menentukan pilihan.
Berkaitan dengan itu, apakah tema pendidikan akan menjadi pembahasan yang dominan pada debat pilpres di tahap kelima?. Tidak ada yang dapat memastikan, karena tema yang akan dibahas dipilih secara random oleh panelis.
Namun demikian, para kandidat juga memiliki wewenang untuk memunculkan pertanyaan tentang tema pendidikan. Dan itu dapat menjadi salah satu bentuk perhatian dan kepedulian terhadap eksistensi pendidikan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Nurul-Yaqin-Guru-SMPIT-Annur-Cikarang-Timur-Bekasi.jpg)