Opini
Puasa dan Kepekaan Sosial
PUASA Ramadan tahun ini harus lebih dimaknai secara spiritualitas sosial. Sebab puasa pada hakikatnya pembaruan jiwa dan pemikiran setiap muslim
Oleh: Nanang Qosim, S.Pd.I.,M.Pd
Dosen Agama Islam Poltekkes Kemenkes Semarang yang juga Peneliti dan Penulis Buku
PUASA Ramadan tahun ini harus lebih dimaknai secara spiritualitas sosial.
Sebab puasa pada hakikatnya pembaruan jiwa dan pemikiran setiap muslim yang menjalankan untuk sungguh-sungguh mengasah nurani dan intelektualitas agar jadi lebih baik.
Nilai-nilai transedental yang termuat dalam puasa termanifestasikan dalam praktik kehidupan sosial kebangsaan, kenegaraan, dan kemasyarakatan.
Artinya, puasa yang hakiki dikerjakan dengan penuh kesadaran berlaku jujur dan adil karena puasa memberi makna pesan filosofis mendalam berupa sense of responsibility yang tinggi.
Baca juga: Tergiur Keuntungan Investasi
Baca juga: Ditawari Untung 5 Persen, Korban Investasi Bodong Berkedok Bisnis Solar di Kalsel Setor Rp 450 Juta
Kepekaan sosial dalam diri seseorang untuk senantiasa berbagi dan mau membantu satu sama lain pada zaman sekarang sangat dibutuhkan.
Karena kondisi sosial ekonomi, pendidikan sekarang cenderung melahirkan perilaku individualistik sehingga sikap ramah, santun, dan semangat kemanusiaan menjadi luntur.
Akibatnya, rakyat miskin semakin terpuruk dan yang kuat makin naik. Realitas kehidupan ini banyak terjadi di berbagai kota-kota besar di Indonesia.
Disparitas sosial, kecemburuan ekonomi, dan tingkat frustrasi masyarakat modern terhadap cita-cita yang gagal karena ketidakadilan negara selalu berimplikasi pada tindakan yang mengarah pada destruktivis. Hal ini karena pembangunan tidak memihak rakyat kecil.
Pemiskinan masyarakat sebagai dampak kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang tidak merata kian membuat rakyat frustrasi.
Ketidakadilan selalu jadi permasalahan dalam mengatasi kemiskinan. Ketidakadilan pada dasarnya cermin ketidakjujuran para pengelola negara.
Baca juga: Jual Emas di Pasar Batuah Martapura, Warga DesaTungkaran Martapura Untung Rp 30 Ribu Per Gram
Zaman sekarang sulit ditemukan politisi yang jujur. Padahal, ketidakjujuran menjadi pangkal berbagai persoalan yang berefek buruk.
Salah satu prinsip dasar dalam puasa ialah jujur: pada Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Orang yang senantiasa berlaku jujur tentunya hidup selalu damai dan tenang.
Sebaliknya, orang-orang yang berlaku tidak jujur, hatinya selalu gelisah sehingga tidak nyaman. Pejabat negara yang berperilaku menyimpang, pemimpin yang suka menyakiti rakyat dan suka menempuh segala cara untuk mencapai tujuan politik, tentu selalu mengalami kegalauan hidup.
Muhasabah
| Tren Pelemahan Rupiah di Tengah Penguatan Harga Saham |
|
|---|
| Negara Sibuk Mengelap Air Mata, Lupa Menutup Keran |
|
|---|
| Refleksi Hukum Akhir Tahun 2025, Identik Tontonan Sirkus dan Badut |
|
|---|
| Gen Z dan Soft-Life Culture: Kenyamanan atau Pelarian dari Realita? |
|
|---|
| Korupsi Era Digital: Tantangan dan Solusi, Refleksi Hari Anti Korupsi Sedunia 2025 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Nanang-Qosim-SPdIMPd-Dosen-Agama-Islam-sdr.jpg)