Opini Publik

Keluarga Pendongeng

Sejak kecil dulu, kita pasti pernah mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh orangtua atau guru

Editor: Hari Widodo
Dok BPost Cetak
Ahmad Syawqi, Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin. 

Oleh: Ahmad Syawqi, Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - Apa yang tergambar dalam pikiran kita ketika mendengar istilah dongeng? Tentu yang tergambar adalah rangkaikan sebuah cerita yang menarik.

Sejak kecil dulu, kita pasti pernah mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh orangtua atau guru.

Saat menyimak dongeng kita seolah diajak untuk berkhayal dan berpetualang ke dalam cerita yang mengasyikan.

Di akhir cerita kita memetik pelajaran dari cerita yang kita simak. Dari Malin Kundang, cerita kebanggaan masyarakat Minangkabau, kita belajar tentang kewajiban menghormati ibu supaya tidak menjadi anak durhaka.

Dari cerita Bawang Merah-Bawang Putih kita belajar tentang arti kebaikan, ketulusan, kesabaran, kesombongan, dan ketamakan melalui tokoh-tokohnya.

Generasi kelahiran tahun 70-80-an pasti akrab dengan serial film boneka Si Unyil yang bercerita tentang petualangan dan keseharian anak laki-laki bernama Si Unyil bersama teman-temannya.

Dari serial ini istilah hompimpa alaium gambreng menjadi akrab di telinga kita. Ada dua karakter dari film ini yang masih menempel di ingatan kolektif masyarakat hingga saat ini yaitu Pak Ogah dengan kalimat populernya “cepek dulu dong” dan Pak Raden, pria berkumis keturunan Jawa dengan gaya ketawa khas yang terkenal pemarah dan pelit.

Sosok Pak Raden ini diperankan oleh Drs Suyadi yang juga pengarang dari cerita legendaris Si Unyil.  

Pengaruh Suyadi sangat luar biasa dalam menghidupkan dunia dongeng di Indonesia sehingga hari kelahirannya, 28 November, diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional. Sedangkan 20 Maret juga diperingati sebagai Hari Mendongeng Sedunia atau World Storytelling Day dimana tahun 2024 ini mengambil temanya adalah Membangun Jembatan.

Dongeng dan tradisi mendongeng adalah tinggalan masa lalu. Namun demikian keberlangsungannya mampu menempuh ruang yang luas dan waktu yang cukup panjang, hingga saat ini mampu berdampingan dengan pendidikan formal.

Di sekolah taman kanak-kanak, di sekolah pendidikan anak usia dini, atau juga semacam Rumah Bermain, kegiatan mendongeng sampai sekarang masih berlangsung.

Selain institusi resmi tersebut, kegiatan mendongeng sudah disebarluaskan ke hampir seluruh wilayah Nusantara dan beberapa negara “luar” oleh banyak Keluarga Pendongeng yang ada di Indonesia.

Sebagai contoh ada sebuah keluarga pendongeng dari Ciganjur. Perihal Keluarga Pendongeng tersebut dituliskan oleh Ginting dan Heni dan dimuat di Tabloid Nyata pada 11 April 2014, halaman 31.

Tersebutlah keluarga pendongeng: Wiwin, Anabel, dan Sony. Keluarga ini menjadikan kegiatan mendongeng sebagai profesi.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved