Opini Publik
Keluarga Pendongeng
Sejak kecil dulu, kita pasti pernah mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh orangtua atau guru
Pada tahun 2006 mereka membentuk sanggar di rumahnya, tepatnya di Ciganjur, Jakarta Selatan.
Sanggar tersebut diberinya nama Kampung Dongeng. Tujuan dari pendirian sanggar adalah untuk melatih murid-murid sanggarnya agar mampu mendongeng dalam bahasa Indonesia dan bahkan bahasa Inggris.
Bahasa asing turut serta diajarkan mengingat Ibu Wiwin pada awalnya berprofesi sebagai pengajar bahasa Inggris di sekolah dasar dan kelas kursus di rumahnya.
Keluarga pendongeng dari Ciganjur tersebut menerima job baik dalam rangka perayaan ulang tahun anak, maupun acara-acara yang diadakan oleh instansi, dan bahkan luar negeri.
Menurut mereka, meskipun mendongeng sudah menjadi pekerjaan, namun bukan materi yang semata-mata dicari dari kegiatan ini.
Ibu Wiwin mengatakan “Kami merasa cukup dengan apa yang kami dapatkan. Kami bisa mendapat kebahagiaan batin yang sulit dinilai dengan uang ketika kami dapat menghibur anak-anak.”
Cerita yang sering mereka bawakan adalah kisah-kisah yang menarik, lucu, dan menginspirasi anak-anak.
Menurut Ibu Wiwin, apabila ia bercerita kisah inspiratif, anak-anak menjadi termotivasi. Keberlangsungan dongeng tersebut menurut Yoseph Yapi Taum disebabkan proses inovasi terhadap dongeng sangat tinggi, sehingga diciptakan secara baru dan diapresiasi oleh publik secara baru pula.
Dongeng merupakan salah satu media yang sangat efektif dalam membentuk karakter anak sejak dini.
Sebuah cerita mempunyai daya tarik tersendiri bagi seorang anak karena adanya jalan cerita yang mengundang rasa penasaran, tokoh-tokoh cerita, dan latar cerita yang menarik dan mengasah fantasi dan imajinasi.
Peniruan karakter yang baik merupakan bentuk pembentukan karakter pada diri seorang anak (Asis, 2015: 155).
Hurlock mengatakan usia dini merupakan masa kritis bagi perkembangan selanjutnya. Pun diungkapkan oleh Freud, bahwa masa dewasa seseorang sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya.
Artinya pengalaman-pengalaman pada usia tersebut akan membentuk kepribadiannya di masa mendatang. Salah satu media komunikasi yang efektif dalam membentuk moral anak adalah dengan “Dongeng” (Judhita, 2015: 178).
Saat ini di zaman yang sudah serba mengglobal, banyak materi dongeng tersedia baik itu lewat media maya maupun media cetak, ataupun media-media lainnya, atau masih ada dalam memori para orang tua yang diturunkan dari orang tuanya pada masa kecilnya.
Namun demikian apabila dongeng-dongeng yang ada tersebut tidak didongengkan kepada anak-anak, sudah tentu nilai yang terkandung di dalamnya tidak akan tersampaikan.
| Self Assessment, Sanksi Administrasi dan Pidana Pajak |
|
|---|
| Hati-hati Main Hakim Sendiri di Media Sosial, Vigilante dalam Perspektif Hukum |
|
|---|
| Menakar Kemitraan Dokter-Pasien |
|
|---|
| Pencegahan HIV/AIDS dengan Pengobatan dan Keterbukaan |
|
|---|
| Refleksi Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2025, Akselerasi Pendidikan Paket bagi Difabel |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ahmad-Syawqi-Pustakawan-UIN-Antasari-Banjarmasin1.jpg)