Opini Publik

Keluarga Pendongeng

Sejak kecil dulu, kita pasti pernah mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh orangtua atau guru

Editor: Hari Widodo
Dok BPost Cetak
Ahmad Syawqi, Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin. 

Pertanyaannya adalah “Apakah tradisi mendongeng di rumah-rumah itu sekarang ini masih dilakukan, sementara keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya untuk penyampaian nilai-nilai?”

Terkait dengan masalah dongeng dan mendongeng, bisa diibaratkan seperti peribahasa “ada asap pasti ada api”.

Kalau pada masa kecilnya seseorang tidak pernah didongengkan, ia tidak atau akan kurang mengenal dongeng. Sehingga biasanya anak-anak yang tidak atau kurang mengenal dongeng karena pada masa kanak-kanaknya tidak pernah didongengkan.

Tradisi mendongeng pada zamannya banyak dilakukan para orang tua. Tradisi mendongeng selain  berfungsi menghibur, mendekatkan hubungan emosional antara orang tua (ibu) dan anak, meningkatkan kemampuan anak dalam berbahasa dan sebagainya, juga secara tersirat berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai.  Sebabnya, di dalam sebuah dongeng yang disampaikan seringkali secara samar-samar atau bahkan nyata membawa pesan moral, memotivasi, membentuk karakter, dan lebih luas lagi konon dapat memengaruhi nasib bangsa dilihat dari segi pertumbuhan ekonominya.

Dulu berbeda dengan sekarang. Sekarang manakala manusia harus menyesuaikan dengan tuntutan zaman, “habislah” sudah waktu yang dimiliki orang tua (ibu) untuk keluarga.

Bagaimanapun kondisinya, ada baiknya tradisi mendongeng tetap menjadi agenda dalam sebuah keluarga. Tradisi mendongeng hanya akan bertahan apabila ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Melalui kegiatan mendongeng, nilai-nilai kehidupan akan sampai kepada anak-anak. (*)

 

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved