Jendela

Pak Haji Naik Haji

JADI rahasia umum di tengah masyarakat kita, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan setelah datang haji

Editor: Edi Nugroho
istimewa
KH Husin Nafarin LC Ketua MUI Kalsel 

Oleh: KH Husin Naparin Lc MA
Ketua MUI Provinsi Kalsel

JADI rahasia umum di tengah masyarakat kita, akan ada pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan setelah datang haji, berapa kali pak haji mencium hajaral aswad? sempatkah salat di Hijr Ismail? atau pernahkah melihat sumur zam-zam? dan berbagai macam pertanyaan.

Diceritakan, seorang haji ditanya, “Apakah sewaktu di tanah suci, pak haji pernah memakan buah tasbih?”

Pak haji terperanjat, sewaktu di tanah suci ia tidak pernah menemukan buah tasbih, yang ada cuma biji tasbih. Karena gengsi pak haji menjawab “sewaktu saya di tanah suci, buahnya belum matang”.

Naser Khosrov seorang penyair Parsi, mendialogkan tentang haji antara seorang penanya dengan seorang pak haji.

Baca juga: Masalah Sampah, Masalah Kita

Baca juga: Konsumen Bingung BBM Kosong, Stok Pertalite di Banjarmasin Kalsel Hanya Sampai Siang

Penanya, “Ketika Anda melepaskan pakaian, berganti dengan pakaian ihram yang putih bersih, apakah Anda juga melepaskan segala atribut duniawi, jabatan, harta dan kekayaan, ilmu dan kepiawaian juga Anda tanggalkan.

Lalu Anda merasa berhadapan dengan Allah tidak memiliki apa-apa. Ketika Anda ucapkan “Labbaikallahumma labbaik? betulkah Anda ikhlas memenuhi panggilan-Nya seputih kain ihram yang Anda lekatkan di badan? ”

Pak haji menjawab, “tidak, justru yang terpikir olehku bagaimana mengamankan uang belanja yang aku bawa dan barang-barang yang aku tinggalkan di penginapan.

Penanya, “Ketika Anda wukuf di Arafah, apakah Anda betul-betul merasa berhadapan dengan Allah, sehingga Anda istigfar dan taubat; mengenang segala dosa dan kemaksiatan, menyesalinya dan bertekad untuk tidak mengulanginya”.

Pak haji menjawab, “Tidak, justru yang terpikir olehku bagaimana aku bisa istirahat dan qadha hajat di padang Arafah dengan nyaman; dan pikiranku kacau mendengar sarana transportasi yang tidak mencukupi, dan aku bingung salat apa yang harus dikerjakan, jamak-tamam, jamak-qasar, atau salat tamam pada waktunya seperti yang diperdebatkan oleh para ulama”.

Penanya, “Ketika Anda melontar jumrah, apakah Anda juga bertekad melontar pikiran-pikiran busuk dan setan-setan yang ada di benak dan dada Anda?”

Pak haji menjawab : “Tidak, malah yang aku pikirkan bagaimana aku bisa melontar dan bisa kembali selamat ke kemah di tengah gelombang arus manusia, dan untuk itu sesekali aku menyikut dan menginjak kaki orang lain.”

Penanya, “Ketika Anda tawaf di Baitullah dan terakhir berdiri di Multazam, apakah Anda betul-betul merasa berada di hadapan Allah lalu Anda memohon kesalamatan dunia dan akhirat; bukan saja buat Anda dan keluarga Anda; tapi juga buat semua umat beriman dimanapun mereka berada !”

Pak haji menjawab, “Tidak; justru yang aku resahkan apakah tawafku ini sah atau tidak karena barangkali aku sudah menyentuh atau disentuh oleh perempuan yang bukan mahram”.

Penanya, “Ketika Anda sa’i, apakah Anda betul-betul tawakkal menyerahkan diri kepada Allah seperti yang dilakukan oleh Siti Hajar bolak-balik antara Safa dan Marwa untuk mencari kehidupan”.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved