Jendela
Kecil Itu Indah
Ungkapan “kecil itu indah” seolah mengingatkan manusia bahwa dalam benda yang terukur kecil, bisa ditemukan rasa, yakni keindahan
Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - “KEMARIN sore, saya sempat berkeliling di sekitar kota, dan tiba-tiba muncul dalam ingatan saya judul buku karya E.F. Schumacher, Small is Beautiful (kecil itu indah),” kataku mengawali sambutan saat rapat Asian Islamic Universities Association (AIUA), di Islamic University of Maldives (IUM), Maladewa, Sabtu, 25 Mei 2024 lalu.
Maladewa adalah negara pulau kecil dan indah. Penduduknya hanya sekitar 400 ribu orang, namun negeri ini dikunjungi oleh lebih dari sejuta turis per tahun.
Ungkapan “kecil itu indah” merupakan kebalikan dari ungkapan the biggest is the best (yang terbesar adalah yang terbaik) atau bigger is better (lebih besar, lebih baik).
Dari masa ke masa, manusia memang suka membuat segala yang besar dan raksasa: piramid dan gedung pencakar langit, jembatan dan jalan yang panjang dan lebar, bandara dan dermaga yang luas, istana dengan ribuan kamar, bahkan masjid, gereja, candi, vihara yang besar. Besar itu megah, agung dan berwibawa.
Budaya besar-besaran itu juga sama dengan ambisi banyak-banyakan. Dalam politik, makin banyak massa pendukung, makin kuat. Dalam berdagang, makin luas pasar yang dijangkau, makin berpeluang untung.
Pada era digital dan media sosial saat ini, ambisi banyak-banyakan itu semakin menjadi-jadi. Tak peduli apapun isinya, sebuah pesan di media sosial akan berharga jika viral. Artinya, banyak yang menyukai, mengomentari dan membagikan. Kuantitas seolah identik dengan kualitas
Bahkan untuk menilai mutu akademisi atau perguruan tinggi, kuantitas sangat menentukan. Berapa jumlah artikel dosen yang terbit di jurnal bereputasi dalam lima tahun terakhir? Berapa jumlah kutipan orang terhadap artikel itu? Berapa dana penelitian yang didapatkan, dari dalam negeri dan luar negeri? Berapa jumlah mahasiswa asing yang kuliah di situ? Setelah tamat, berapa lama alumni menunggu hingga mendapatkan pekerjaan? Berapa rata-rata penghasilannya per bulan?
Obsesi pada jumlah itu akhirnya mendorong orang untuk memanipulasi. Agar jumlah guru besar bertambah, maka para dosen “dibantu” meski dengan cara-cara yang melanggar etika akademis. Laporan jumlah pasien pengidap penyakit tertentu di rumah sakit, atau jumlah penjahat yang ditangkap polisi, menjadi lebih utama dibanding cara menangani mereka. Inilah yang disebut Jerry Z. Mulder dengan The Tyrany of Metrics (2018) atau The Reign of Quantity (1945) oleh René Guinon.
Jumlah memang bisa, tetapi tidak otomatis, menunjukkan mutu. Tidak semua hal bisa diukur dengan jumlah. Etika (baik dan buruk) dan logika (benar dan salah), tidak bisa ditentukan dengan jumlah. Korupsi tetap buruk meskipun banyak orang melakukannya. Dua tambah dua tetap empat, meskipun jutaan orang menolaknya. Begitu pula ilmu dan kebijaksanaan. Memiliki banyak buku atau sederet gelar tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang itu berilmu dan bijaksana.
Kegilaan pada yang banyak atau besar itu barangkali berakar pada materialisme, yakni memandang bahwa yang terutama, bahkan hakikat hidup ini, adalah materi alias benda. Benda itu bisa diindera dan diukur. Sebaliknya, nilai-nilai akhlak dan ruhani, yang menandai kualitas, sulit diukur. Rezeki yang halal itu berkah. Berkah itu kebaikan yang berlimpah ruah. Bagaimana kita bisa mengukur berkah? Tak ada ukurannya. Berkah itu ruhaniah bahkan gaib. Hanya iman yang bisa merasakannya.
Namun bagaimana pun, manusia tidak hanya berpikir dan mengindera, tetapi juga merasa. Manusia modern masih mendamba keindahan. Keindahan dapat diindera, tetapi indera saja tak berarti apa-apa tanpa dirasa. Keindahan pada hakikatnya adalah alam perasaan. Karena itu, manusia modern tergoda untuk datang ke tempat-tempat yang indah. Ia juga masih terpesona dengan karya-karya seni. Ia terpukau pada musik, lukisan, ukiran, sastra dan film. Di atas segalanya, ia terpana pada cinta.
Ungkapan “kecil itu indah” seolah mengingatkan manusia bahwa dalam benda yang terukur kecil, bisa ditemukan rasa, yakni keindahan. Kita tidak hanya tubuh, tetapi ruh. Kita tidak hanya perlu benda, tetapi juga rasa. Namun, meskipun tak mengabaikan rasa, manusia modern seringkali lupa akan alam ruhani itu sendiri. Rasa baginya adalah efek indera belaka. Padahal di balik rasa yang tak terukur itu ada ruh, yang seharusnya menjadi pusat hidupnya, bukan pantulan dari tubuhnya saja.
Karena itu, meskipun masih merasakan dan merindukan keindahan, manusia modern sulit menemukan kedamaian. Ia mengagumi lukisan, tetapi lupa pada sang pelukis. Keindahan alam hanya mengundangnya untuk berswafoto saja.
Ia merasakan gejolak cinta, tapi tak menyadarinya sebagai anugerah Tuhan. Hidupnya sudah terbalik. Tubuh memandu ruh. Lebih buruk lagi, hidupnya tanpa pusat, tanpa arah yang jelas, ke mana ia harus menuju, karena ia sudah lupa dari mana ia berasal.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Mujiburrahman-19062023.jpg)