Opini Publik
Batu Kerikil Jamarat
DI antara ritual haji adalah melempar jumrah. Jamarat jamak dari jumrah, artinya beberapa jumrah
Oleh : Ahmad Barjie B Penulis buku “Urang Banjar Tulak Haji dan Gambaran Kota Suci”
BANJARMASINPOST.CO.ID - DI antara ritual haji adalah melempar jumrah. Jamarat jamak dari jumrah, artinya beberapa jumrah, mencakup jumrah aqabah, jumrah wustha dan jumrah ula.
Jumrah artinya kumpulan batu kecil, kemudian menjadi nama lokasi tempat melempar batu-batu kerikil saat jemaah haji berada di Mina.
Jumrah aqabah disebut jumrah kubra, yaitu jumrah yang paling dekat dengan Makkah, sebagai batas antara Makkah dengan Mina.
Setiap tanggal 10 Zulhijjah, jemaah haji pasti melakukan pelemparan jumrah ini dengan tujuh kali lemparan, setelah mereka wukuf di Arafah dan bermalam di Muzdalifah.
Pada tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah mereka kembali melakukan jumrah ini lagi, setelah melakukan jumrah ula dan wustha secara berurutan.
Artinya pada tanggal 10 Zulhijjah mereka hanya melempar jumrah aqabah saja, namun pada tanggal 11 sampai 13 mereka akan melempar tiga jumrah, dari jumrah ula, wustha hingga aqabah. Jarak antara lokasi jumrah aqabah dengan jumrah wustha 117 meter, dan jarak antara jumrah wustha dengan jumrah ula 156 meter.
Dahulu, setiap jumrah ditandai dengan pilar atau tiang dari tembok batu yang dikelilingi dengan tembok setinggi 1 meter berbentuk lingkaran, dan tembok inilah yang menjadi sasaran batu-batu kerikil yang dilempar oleh para jemaah.
Sekarang ini dibangun tembok-tembok yang cukup besar dan tinggi, mencapai 15 meter, dan di bawahnya ada tempat penampungan batu yang memanjang seperti perahu atau kapal, di sinilah batu-batu berjatuhan.
Sambil melakukan pelemparan jemaah terus bergerak, agar tidak terjadi penumpukan jemaah saat melempar.
Melempar Iblis
Sebagian jemaah mengira bahwa pilar-pilar (sekarang tembok-tembok) tersebut melambangkan iblis, sehingga di antara mereka ada yang dengan penuh emosi melakukan pelemparan sambil menantang dan mengumpat.
Sebenarnya ritual melempar itu lebih sebagai bukti ketaatan kepada Allah, bukan sebagai pelampiasan kemarahan kepada iblis.
Banyak juga orang beranggapan, ritual melempar iblis itu karena iblis mengganggu Ibrahim ketika akan mengorbankan anaknya Ismail.
Gangguan ini dilakukan berkali-kali oleh iblis, sehingga berkali-kali pula ia dilempar dengan batu. Kalau versi ini yang dianut jemaah, baik saja, asalkan mereka membenci iblis tidak di tanah suci saja, lebih-lebih di tanah air.
Kalau setelah pulang, masih senang melakukan korupsi, penyalahgunaan jabatan, riba, menyenangi pornografi dan pornoaksi, pelit, dan sebagainya yang disenangi iblis, berarti mereka melempar iblis hanya main-main saja.
| Hati-hati Main Hakim Sendiri di Media Sosial, Vigilante dalam Perspektif Hukum |
|
|---|
| Menakar Kemitraan Dokter-Pasien |
|
|---|
| Pencegahan HIV/AIDS dengan Pengobatan dan Keterbukaan |
|
|---|
| Refleksi Hari Penyandang Disabilitas Internasional 2025, Akselerasi Pendidikan Paket bagi Difabel |
|
|---|
| Ekonomi Indonesia 2025: Antara Mimpi dan Realita |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ahmad-Barjie-B-Penulis-buku-Potret-Sungai-Banjar-Kalimantan-Selatan-08062023.jpg)