Jendela

Karom Haji Saja Berat

Mengurus ratusan ribu manusia di tempat yang sama pastilah sulit-rumit. Sebagai karom saja, rasanya sudah repot, apalagi menjadi petugas haji

Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mujiburrahman. 

Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SAYA dan isteri berangkat haji pada 2013 silam, setelah menunggu antrean sekitar lima tahun. Kami ikut program haji reguler Kementerian Agama, bukan haji plus yang tergolong mahal.

Saya ditunjuk kawan-kawan menjadi ketua rombongan (karom), yang membawahi lima regu. Kami dipimpin oleh seorang ketua kloter (kelompok terbang), yang terdiri dari beberapa rombongan. Ketua kloter adalah petugas haji dari Kementerian Agama.

Kami terbang dari Banjarmasin malam hari, dan mendarat di Jeddah pagi hari. Proses pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi ternyata sangat lambat.

Jemaah sempat gelisah. Ketua kloter kami dan dokter masih diperiksa. Setelah mereka keluar, saya bertanya pada dokter, “Ada apa tadi sampai lama?” “Ada jemaah yang membawa obat kontrasepsi (pil KB) dalam jumlah besar, sehingga imigrasi mempertanyakan,” katanya. Mungkin obat yang banyak itu disita, tetapi rombongan kami dipersilakan melanjutkan perjalanan.

Dari Jeddah, kami naik bus ke Madinah. Tiba malam hari menjelang Subuh. Tugas saya sebagai karom adalah membagikan kamar untuk kawan-kawan. Kami menghitung jumlah kamar yang disediakan, lalu disesuaikan dengan anggota yang ada.

Kementerian Agama mengarahkan agar jemaah laki-laki dan perempuan dipisah, meskipun mereka suami-isteri-anak. Sulitnya, banyak anggota kami yang ingin berkumpul keluarga. Selama masih bisa diatur, kami berusaha memenuhi keinginan mereka. Namun, jika tidak memungkinkan, rumus pisah lelaki-perempuan tetap diterapkan.

Ketua kloter dan karom biasanya yang paling terakhir masuk kamar. Kami merasa tidak tenang jika masih ada anggota yang belum dapat kamar. Begitu pula dengan pembagian makanan.

Tugas karom adalah mengambil jatah makan jemaah, dan membagikannya. Karena itu, sebagai karom saya mengambil makanan menjelang salat zuhur dan sesudah salat isya, lalu membagikannya kepada anggota melalui ketua-ketua regu.

Menu makannya ala Indonesia yang cukup enak. Ada nasi, lauk, sayur hingga buah. Hanya pernah sekali makanan datang terlambat. Sisanya tepat waktu.

Menjelang berangkat ke Mekkah, siang itu ketua kloter bersama para ketua rombongan dan petugas haji lainnya melaksanakan rapat. Pada waktu yang bersamaan, saya berkunjung ke Universitas Islam Madinah sehingga saya tidak bisa ikut rapat.

Sore hari, saya terkejut mendengar bahwa salah satu keputusan rapat adalah mereka akan melaksanakan salat hajat berjemaah di halaman Masjid Nabawi. Saya berharap rencana itu dibatalkan, karena besar kemungkinan akan menjadi perhatian pihak keamanan. Namun, banyak orang tetap teguh pada rencana tersebut.

Malam itu, saya dan isteri sengaja datang terlambat, karena sudah merasa waswas bahwa sesuatu akan terjadi. Ternyata benar! Saat kawan-kawan salat hajat berjemaah di halaman masjid, datanglah banyak polisi mengerumuni, termasuk yang memakai serban merah (perwira).

Usai salat, polisi marah-marah, tetapi umumnya jemaah tak paham bahasa Arab. Lalu orang mencari saya. “Pak Mujib mana?” Saya yang mengamati dari tadi, segera menemui polisi itu. “Tidak ada salat sunnah berjemaah kecuali tarawih, Idulfitri dan Iduladha. Ini bid’ah, haram!” katanya marah.

Saya hanya manggut-manggut. “Tolong sampaikan dalam bahasamu kepada mereka,” katanya. Saya pun melakukannya. Dia bertanya lagi, mengapa mereka salat? Saya jelaskan bahwa kami besok pagi akan berangkat ke Mekkah, dan berharap semua urusan lancar. Kami juga ingin rapat karena ada informasi rombongan kami bakal dibagi di dua hotel.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved