Jendela

Gila Citra

Kita tak mungkin terlepas dari citra karena kita hidup bersamanya. Namun kita harus selalu sadar bahwa citra bukanlah realita

Editor: Hari Widodo
ISTIMEWA
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mujiburrahman. 


Mujiburrahman, Rektor Universitas  Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - INI kisah lama. Saat itu saya mengikuti pengajian Tuan Guru Haji Muhammad Zaini Ghani di Keraton, Martapura, sebelum beliau pindah ke Sekumpul. Yang dibaca adalah karya al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulûm al-Dîn, bagian tentang orang-orang yang berpura-pura zuhud atau asketis ala Sufi dengan memakai pakaian compang camping. Al-Ghazali mengkritik perilaku munafik orang-orang itu, dan mengatakan bahwa zuhud adalah hati yang tak terikat pada cinta dunia, bukan penampilan belaka.

Yang mengejutkan saya adalah komentar Guru. Beliau kurang lebih mengatakan, “Kalau di zaman sekarang, kamu berpakaian compang-camping dengan harapan dianggap wali, malah ditertawakan orang. Yang kamu terima bukan penghormatan, melainkan penghinaan. Zaman sudah berubah, tidak seperti dulu ketika orang yang sederhana dianggap mulia.” Saya yang masih remaja belia kala itu, cukup terkejut mendengar komentar tersebut. Namun saya belum paham, mengapa begitu.

Setelah beranjak dewasa, peristiwa itu tetap menggoda saya untuk berpikir mencari jawaban. Saya perhatikan Guru Zaini yang seringkali tampil dengan baju yang rapi dan indah. Bahkan ketika sudah makmur, beliau membangun rumah yang bagus dan menggunakan kendaraan yang cukup mewah. Saya menduga, maksud beliau mungkin adalah, seorang ulama tidak boleh tampil merana di mata para budak dunia. Penampilannya yang elegan adalah untuk menjaga marwah ilmu dan akhlak.

Namun, orang lain yang tak mengenal kezuhudan beliau, boleh jadi justru menyangkanya sebagai seorang pecinta dunia. Tak menutup kemungkinan pula, sebagian muridnya, atau ulama yang bukan muridnya, mencoba meniru penampilannya, tetapi dengan motivasi yang sangat duniawi. Alih-alih tampil sederhana, mereka tampil mewah dan megah karena memang di lubuk hatinya yang terdalam merasa bangga dengan kemewahan dan kemegahan bendawi-duniawi itu.

Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya hati siapa yang tahu? Jangan sangka air yang tenang tak berbuaya. Yang kita tahu hanyalah yang zahir, yang kasat mata. Yang batin, yang tersembunyi, tetaplah rahasia antara seseorang dengan Tuhannya. “Nahnu nahkumu bi al-zhawâhir, wallâhu yatawalla al-sarâ’ir”(Kita menilai yang lahir saja. Yang batin hanya Allah yang tahu). Tugas kita adalah berbaik sangka kepada orang lain, sambil berburuk sangka kepada hawa nafsu diri kita sendiri.

Yang lahir, yang tampak itu adalah citra. Citra adalah gambar, contoh alias misal dari kenyataan, bukan kenyataan itu sendiri. Seperti bayangan di cermin, citra adalah pantulan dari kenyataan di depannya, yang mirip dengannya. Citra adalah kaleng, sampul atau kemasan yang mewadahi sekaligus menutupi hakikat. Di era digital dan media sosial saat ini, hampir tiap saat kita hadir dan menyaksikan kehadiran yang lain, dalam citra-citra berupa tulisan, foto dan video.

Bukan hanya diri kita yang dihias dengan pakaian indah dan informasi yang baik, tetapi juga lembaga, kantor, organisasi, partai, sekolah, madrasah, pesantren dan universitas, semua perlu hadir dan dihadirkan dalam citra-citra nan indah. Citra itu bisa berupa penampilan fisik, berita-berita yang baik, tayangan video yang memikat, hingga berbagai prestasi dan peringkat yang membuat orang kagum. Citra-citra itu disebar di alam citra pula, yang disebut dunia maya, dunia yang tak konkret-nyata.

Dunia citra itu mirip alam mimpi. Mimpi itu jelas ada, tetapi kita tak tahu hakikat alam mimpi itu jika dibandingkan dengan alam inderawi yang kita alami. Jika kita kaitkan dengan kehidupan saat ini di mana tiap orang dan lembaga sibuk bersolek untuk tampil dalam citra-citra seindah mungkin, maka berarti kita makin tenggelam dalam lautan mimpi. Tak heran jika suatu hari nanti ketika terjaga, kita terkaget-kaget melihat kenyataan pahit yang tak sesuai dengan citra-citra selama ini.

Demikianlah citra itu bisa membantu kita memahami realitas, bisa pula menipu kita. Selain itu, citra juga bisa mendorong kita menyesuaikan diri dengannya. “Sorban itu bisa mencegah orang dari kekejian dan kemungkaran,” kata seorang guru. Sorban dalam masyarakat kita merupakan unsur citra kesalehan, meskipun mungkin dalam masyarakat Arab tidak demikian. Hal serupa juga berlaku untuk penghargaan, peringkat, gelar, dan keunggulan yang ditetapkan untuk orang atau lembaga.

Alhasil, kita tak mungkin terlepas dari citra karena kita hidup bersamanya. Namun kita harus selalu sadar bahwa citra bukanlah realita, tetapi tampilan kesekian dari realita. Yang hakiki dan otentik adalah kenyataan, bukan tampilan. Tampilan bisa saja berubah-ubah sesuai ruang dan waktu, tetapi kenyataan tetaplah kenyataan sebagaimana adanya. Tanpa kesadaran ini, maka suatu hari nanti kita pasti akan marah dan kecewa. Seperti kata pepatah, “buruk muka, cermin dibelah!” (*)

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved