Kolom

Transformasi Pembangunan Kesehatan Kota Banjarbaru

Hj Erna Lisa Halaby tampak gagasan besarnya untuk menggeser paradigma pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru, ini bentuk pemikirannya

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Dr. Muhammad Syarkawi Rauf  , Member of Asean Competition Institute - ACI 

Oleh: Dr. Muhammad Syarkawi Rauf  
Member of Asean Competition Institute - ACI

BANJARMASINPOST.CO.ID - DALAM beberapa kali diskusi dengan Ibu Hj Erna Lisa Halaby (Ketua Yayasan Abdul Aziz Halaby) di rumahnya, tampak gagasan besarnya untuk menggeser paradigma pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru dari paradigma pengobatan ke paradigma sehat. Pergeseran ini ditujukan untuk menyediakan pelayanan kesehatan terjangkau dan berkualitas untuk semua.

Ide sentral ibu Hj Erna Lisa Halaby adalah penerapan paradigma sehat yang diharapkan mampu mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Banjarbaru yang saat ini sudah termasuk dalam kategori sangat tinggi menjadi setara dengan kota besar lainnya di Pulau Jawa.

Transformasi pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru difokuskan pada beberapa isu, yaitu: transformasi layanan primer, layanan rujukan, sistem ketahanan kesehatan, sistem pembiayaan kesehatan, SDM kesehatan, dan teknologi kesehatan. Proses transformasi tersebut mengacu pada program nasional kementerian kesehatan (Kemenkes).

Transformasi pertama, transformasi layanan primer yang mencakup upaya promotif dan preventif, perluasan jenis antigen, imunisasi, penguatan kapasitas dan perluasan skrining di layanan primer serta peningkatan akses, SDM, dan obat. Penguatan layanan laboratorium untuk deteksi penyakit atau faktor risiko yang berdampak pada masyarakat.

Transformasi kedua, yaitu transformasi layanan rujukan mencakup perbaikan mekanisme rujukan, peningkatan akses, mutu layanan rumah sakit, dan layanan laboratorium kesehatan masyarakat.

Transformasi ketiga, yaitu transformasi sistem ketahanan kesehatan dalam menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kedaruratan kesehatan masyarakat melalui kemandirian kefarmasian dan alat kesehatan. Termasuk penguatan daya tahan berbasis komunitas dan laboratorium, serta penguatan sistem penanganan bencana dan kedaruratan kesehatan.

Transformasi keempat, yaitu transformasi pembiayaan kesehatan untuk menjamin ketersediaan pembiayaan kesehatan yang transparan, efektif, efisien, dan berkeadilan. Transformasi kelima, yaitu transformasi SDM kesehatan dalam rangka menjamin ketersediaan dan pemerataan jumlah, jenis dan kapasitas SDM kesehatan.

Terakhir, agenda transformasi keenam, yaitu transformasi teknologi kesehatan yang mencakup integrasi dan pengembangan sistem data kesehatan, integrasi dan pengembangan sistem aplikasi kesehatan, serta pengembangan ekosistem teknologi kesehatan.

Pengembangan ekosisitem kesehatan mencakup pembuatan regulasi atau kebijakan yang mendukung, peningkatan tata kelola, memberikan kemudahan, pendampingan, pembinaan serta pengawasan yang mendukung proses pengembangan dan pemanfaatan teknologi kesehatan berkelanjutan.

Secara nasional, dalam mendorong upaya promotif dan preventif, pemerintah pusat telah melakukan reformasi sektor kesehatan secara besar-besaran melalui perubahan UU Kesehatan.

Sementara dari sisi anggaran, kementerian kesehatan membagi porsi anggaran secara seimbang antara upaya promotif-preventif dan kuratif dengan porsi 50 persen alokasi anggaran promotif – preventif dan 50% kuratif.

Reformasi kebijakan dan alokasi anggaran tidak hanya berfokus pada rumah sakit, melainkan juga revitalisasi serta perbaikan puskesmas dan posyandu. Menghidupkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang dicanangkan dan digalakkan oleh kementerian kesehatan yang bertujuan menanamkan budaya hidup sehat di masyarakat.

Penerapan GERMAS dilakukan dengan kegiatan, seperti Car Free Day (CFD) yang sangat populer di tengah masyarakat. Implementasi GERMAS bersifat gerakan yang menggunakan pendekatan inklusif, tidak eksklusif. Promosi kesehatan diharapkan dapat dilakukan dengan memberdayakan semua individu untuk menjalani perilaku hidup sehat.

Singkatnya, orientasi pembangunan kesehatan yang semula sangat menekankan upaya kuratif dan rehabilitatif, secara bertahap bergeser menjadi upaya kesehatan yang terintegrasi menuju kota sehat dengan peran aktif masyarakat. Pendekatan baru ini menekankan pentingnya upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif.

Pemahaman baru terhadap konsep atau definisi kesehatan dan meningkatnya kesadaran akan faktor-faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat menimbulkan keyakinan bahwa pelayanan kesehatan kuratif saja tidak akan dapat menciptakan Indonesia sehat atau dalam konteks yang lebih kecil Kota Banjarbaru Sehat.

Pembangunan kesehatan diarahkan dapat meningkatkan mutu SDM dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat yang memberi prioritas pada upaya peningkatan kualitas kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut.

Keberhasilan pembangunan kesehatan diukur dengan meningkatnya kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Hal ini ditandai oleh sikap kritis masyarakat terhadap perkembangan pembangunan kesehatan. Demikian juga dengan tuntutan masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan pelayanan berkualitas dan terjangkau untuk semua.

Akhirnya, trasformasi pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru diarahkan untuk meningkatkan angka IPM Kota Banjarbaru. Dimana IPM merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kualitas hidup masyarakat di suatu negara atau daerah, khususnya Kota Banjarbaru.

Sejalan dengan data BPS tahun 2023, nilai IPM Kota Banjarbaru tahun 2022 sekitar 79,68 dengan umur harapan hidup sekitar 72,36 tahun. Umur harapan hidup berkaitan dengan kualitas hidup masyarakat Kota Banjarbaru, dimana perkiraan usia rata-rata penduduk saat lahir mencapai sekitar 72,36 tahun.

Jika dibandingkan dengan beberapa daerah lainnya di Kalsel, Umur Harapan Hidup (UHH) masyarakat Kota Banjarbaru sekitar 72,10 lebih tinggi dibandingkan Kota Banjarmasin pada tahun 2021 yang hanya 71,29. Bahkan UHH Kota Banjarbaru termasuk tertinggi di Kalsel, namun lebih rendah dibandingkan Yogyakarta sekitar 75,12 tahun 2023.  

UHH dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Spesific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara tahunan sehingga dapat dibuat tabel kematian.

Penyelesaian masalah UHH rendah dilakukan melalui program pembangunan kesehatan, program sosial, kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori, serta program penanggulangan kemiskinan.

Sehingga dalam 5 tahun ke depan, transformasi pembangunan kesehatan Kota Banjarbaru secara menyeluruh dilakukan menuju Banjarbaru Sehat dengan UHH lebih tinggi, yaitu setara dengan daerah lainnya di Pulau Jawa, seperti  Kabupaten Pati, Wonogiri, Klaten dan lainnya yang UHH-nya di atas 76 tahun.

Tujuan utama program transformasi kesehatan Kota Banjarbaru adalah meningkatkan kualitas hidup dengan produktifitas penduduk lebih tinggi yang tercermin pada IPM Kota Banjarbaru yang sangat tinggi. IPM Kota Banjarbaru dalam 5 tahun ke depan setara dengan Kota Yogyakarta yang merupakan kota dengan IPM tertinggi di Indonesia. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved