Jendela

Prabowo dan Coelho

KEMARIN, 20 Oktober 2024, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029

|
Editor: Hari Widodo
Foto Ist
Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. 

Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEMARIN, 20 Oktober 2024, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029.

 “Lima belas tahun kami berjuang, akhirnya berhasil juga. Kami sangat bersyukur,” kata politisi Gerindra, Habiburrokhman kepada media.

Saking gembiranya, katanya, pada malam menjelang pelantikan, para pentolan Gerindra masih asyik berdialog di Grup WhatsApp hingga jam 3 dini hari. 

Prabowo memang pernah kalah berturut-turut: sebagai cawapres pada 2009 dan sebagai capres pada 2014 dan 2019. Baru pada 2024 dia menang.

Kegembiraan itu bertambah lagi dengan upacara pelantikan yang megah, dijaga ketat oleh 115 ribu personel TNI/Polri dan dihadiri 1.100 undangan, serta para pemimpin dan utusan khusus 33 negara sahabat.

Lebih dari itu, ada pula 14 panggung hiburan rakyat di seputar Jakarta, yang diisi oleh artis-artis ternama. Tak ketinggalan pula wartawan media nasional dan internasional yang siap siaga meliput secara langsung upacara pelantikan tersebut dengan segala pernak-perniknya. Tentu saja, Istana Negara juga dihias dan dirapikan, guna menyambut presiden dan wakil presiden baru.

Dalam satu wawancara dengan Najwa Shihab, Prabowo mengaku bahwa di antara buku-buku yang dia sukai adalah karya Paulo Coelho. Karena itu, menarik untuk melihat sebagian yang ditulis Coelho.

Dalam Manuskrip yang Ditemukan di Accra, Coelho (2012: 34) menulis, “Kekalahan diperuntukkan bagi mereka yang menjalani hidup dengan penuh semangat dan keyakinan, walaupun dihantui rasa takut. 

Kekalahan adalah untuk orang yang gagah berani. Sebab hanya merekalah yang mengerti tentang kehormatan dalam kekalahan, dan suka cita dalam kemenangan.”

Politik memang soal menang-kalah, tetapi setelah menang, lantas mau apa? Pertanyaan ini tentu sangat penting, lebih-lebih kemenangan dalam merebut kekuasaan pemerintahan.

Pertanyaan ini tidak hanya untuk Prabowo-Gibran, tetapi juga untuk semua elit politik yang terlibat dalam proses pemilu, yang tahun ini duduk di kursi empuk DPR/MPR dan kabinet yang baru. 

Dalam kampanye pemilu, mereka telah menjanjikan berbagai program kepada rakyat sebagai pelaksanaan amanat konstitusi kita, yaitu mewujudkan Indonesia “yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.”

Untuk mewujudkan janji-janji itu dalam kenyataan, tentu diperlukan tim yang kompak dan pekerja keras. Minggu lalu, kita menyaksikan di media, Prabowo telah memanggil calon-calon menteri dan wakil menteri yang jumlahnya paling banyak dalam sejarah Indonesia.

Konon ada 44 kementerian, dan sebagian menteri akan dibantu oleh lebih dari satu orang wakil menteri. Ini koalisi besar, yang mencoba merangkul berbagai pihak. Ada yang dari partai-partai pendukung. Ada pula dari kalangan profesional. Ada lagi dari kabinet Jokowi. Konon, ada juga orang-orang titipan para bohir, dst.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved