Jendela

Prabowo dan Coelho

KEMARIN, 20 Oktober 2024, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka resmi dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI 2024-2029

|
Editor: Hari Widodo
Foto Ist
Mujiburrahman, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. 

Tak sedikit pengamat yang ragu bahkan pesimistis dengan kabinet yang “gemoy” ini. Mereka khawatir bahwa kabinet ini tak lebih dari bagi-bagi kekuasaan kaum elit saja, sementara kepentingan rakyat hanya hiasan bibir belaka.

 Ada lagi yang berpendapat, bergabungnya banyak partai politik dan bahkan perwakilan ormas dalam pemerintahan akan menghambat demokrasi yang sehat, karena suara-suara kritis penyeimbang pemerintah bisa jadi makin sepi. Lebih jauh lagi, hal ini dilihat sebagai manifestasi dari konsep negara integralistik atau kekeluargaan yang alergi terhadap oposisi.

Kita berharap, pandangan kritis tersebut justru menjadi motivasi bagi pemerintahan Prabowo. Harapan itu terasa bergema dalam pidato pelantikannya yang berapi-api.

Prabowo menegaskan bahwa para pemimpin harus bersih, tidak korupsi, dan hukum harus ditegakkan dengan keras dan tegas. Rakyat miskin masih banyak. Mereka harus disejahterakan. Pemimpin harus bekerja untuk rakyat, bukan untuk diri sendiri. Kita harus swasembada pangan. Kekayaan alam harus dikelola bangsa sendiri dengan baik. Ini semua sulit diwujudkan, tetapi jika kita bersatu, kita pasti bisa.

Kita berharap, pidato Prabowo yang penuh semangat bahwa dia akan mengabdikan jiwa-raganya demi rakyat Indonesia, akan dibuktikannya selama menjabat sebagai presiden.

Untuk itu, sudah selayaknya kita memberi kesempatan yang adil (fair-chance) kepada beliau untuk bekerja keras memenuhi janji-janjinya. Kita berharap, seperti nasihat Raja Tua dalam novel Sang Alkemis karya Paulo Coelho: ”Kalau seseorang sungguh-sungguh menginginkan sesuatu, seisi jagat raya akan bahu membahu membantu orang itu mewujudkan impiannya” (2005: 83).

Kesungguhan seseorang dalam berjuang jiwa-raga mewujudkan janji-janjinya bahkan lebih penting daripada hasil yang kelak didapatkannya. “Tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian” (Coelho 2005:169).  Coelho juga menulis, “Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang lain atas karya kita. Keberhasilan adalah buah dari benih yang kau tanam dengan penuh cinta. Saat panen tiba, bisa kau katakan pada dirimu, ‘Aku sukses’,” (2014: 135).

Selamat bekerja, Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran bersama kabinet. Kami rakyat Indonesia menunggu pembuktian janji-janjimu! (*)

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved