Tajuk
Awas Banjir Datang Lagi
USIM hujan telah datang. Bahkan, sejumlah daerah sudah mulai dilanda banjir. Terbaru, banjir rob melanda wilayah pesisir
BANJARMASINPOST.CO.ID - MUSIM hujan telah datang. Bahkan, sejumlah daerah sudah mulai dilanda banjir. Terbaru, banjir rob telah melanda Desa Pudi Seberang, Kecamatan Kelumpang Utara, Kabupaten Kotabaru, sejak beberapa hari lalu.
Banjir akibat naiknya permukaan laut berlangsung setiap hari sekitar 1-2 jam. Kondisi serupa terjadi di Desa Senakin, Kecamatan Kelumpang Tengah. Banjir rob seperti sudah jadi ‘agenda’ tahunan di sana.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotabaru menyebut banjir rob merata di kawasan pesisir. Masyarakat pun diminta waspada meski tiap tahun terjadi.
Di wilayah lain yang juga kerap dilanda, Kabupaten Banjar memang belum terjadi. Namun, BPBD Banjar sudah meningkatkan kewaspadaan dengan terus memantau alat Early Warning System (EWS) di beberapa lokasi.
Pencegahan banjir seharusnya dilakukan sebelum masuk musim hujan, sehingga tidak terjadi banjir ketika musim hujan tiba. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengubah wilayah yang rawan banjir menjadi wilayah banyak resapan air adalah menambah resapan, melakukan penghijauan, dan reforestasi.
Menanam pohon dan vegetasi lain yang dapat membantu menyerap air hujan dan meningkatkan kapasitas resapan tanah adalah salah satu caranya. Kemudian membuat taman atau hutan kota dengan banyak pohon di daerah perkotaan.
Selain itu, digalakkan pembuatan biopori atau membuat lubang resapan atau biopori yang berfungsi menyerap air ke dalam tanah, sehingga mengurangi risiko genangan air. Bisa juga membangun taman resapan dengan mengubah lahan kosong atau tidak terpakai diisi tanaman dan tanah permeabel.
Pohon harus cepat ditanam di area kosong untuk membuat sumber air baru. Daerah-daerah yang gundul mesti ditanami pohon lagi. Lalu, meningkatkan kapasitas penyimpanan air, membuat bendungan atau embung untuk mengontrol debit, dan menggunakan teknologi pengelolaan air yang semakin canggih untuk meningkatkan efisiensi penyimpanan air.
Kemudian, pemerintah harus membangun tanggul atau bendungan untuk mengontrol air. Namun, proses ini membutuhkan waktu lama dan dana yang cukup. Sehingga tidak bisa dilakukan pemerintah daerah karena menjadi kapasitas pemerintah pusat.
Terpenting, membangun kesadaran masyarakat. Jika masyarakat tidak tahu cara menjaga lingkungannya sendiri, upaya apapun tidak akan berguna. Karena itulah dibutuhkan kesadaran dan pengetahuan bahwa hutan yang begitu luas tidak boleh lagi ditebang, karena hutan paling baik menyerap air. Kemudian aktivitas tambang ilegal tidak boleh dilakukan karena dapat mendangkalkan sungai. Terpenting, masyarakat harus sadar tidak boleh membuang sampah sembarangan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Tajuk-Mudik-Bijak.jpg)