Jendela
Tulus, Transaksional dan Culas
IBNU Taimiyyah (1262-1328) adalah seorang ulama yang sering dijadikan sebagai tokoh rujukan bagi para pembaru Islam modern, terutama karena sikapnya
Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin
IBNU Taimiyyah (1262-1328) adalah seorang ulama yang sering dijadikan sebagai tokoh rujukan bagi para pembaru Islam modern, terutama karena sikapnya yang tegas dan keras terhadap hal-hal yang dianggapnya menyimpang dari ajaran Islam ortodoks.
Di sisi lain, menurut George Makdisi (1973), Ibnu Taimiyyah sebenarnya seorang Sufi, penganut Tarekat Qadiriyah. Namun, sebagai seorang pembaru, ia punya pandangan sendiri tentang tasawuf.
Di antara karya-karyanya yang berlimpah, Ibnu Taimiyah menulis satu risalah pendek yang menarik berjudul al-Shûfiyyah wa al-Fuqarâ’. Meskipun singkat, risalah ini menegaskan pandangannya yang khas perihal tradisi pemikiran dan amalan tasawuf. Menurutnya, istilah “sufi” dan “tasawuf” tidak ada di zaman Nabi dan Sahabat. Istilah tersebut baru muncul di abad ke-3 Hijriyah (ke-9 Masehi). Istilah itu lebih tepat dihubungkan dengan kata “shûf” yakni kain wol kasar yang mereka pakai, sebagai reaksi terhadap gaya hidup mewah dan hedonis kalangan elit dan penguasa.
Salah satu yang menarik dalam risalah ini adalah, Ibnu Taimiyyah membagi kaum Sufi ke dalam tiga tipe. Pertama adalah kaum Sufi hakiki, yakni mereka yang berusaha keras untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya dengan ibadah dan zuhud. Kedua, kaum Sufi rezeki, yakni mereka yang tinggal di asrama, yang hidupnya bergantung pada pemberian masyarakat. Ketiga, kaum Sufi simbolis, yakni sekadar nama. Mereka berpakaian, berbicara dan bergaya ala Sufi, tetapi hanya pura-pura belaka. Yang pertama tentu baik. Yang kedua, bisa baik, bisa buruk. Yang ketiga jelas buruk.
Baca juga: SDN Batung Siap Hadapi Ujian Semester, Begini Yang Dilakukan Dinas Pendidikan Tapin
Baca juga: Klub Cikal Bakal Barito Putera Kembali Muncul, Persenus Siap Berlaga di Kompetisi Baru
Tiga tipe Sufi di atas merupakan hasil pengamatan Ibnu Taimiyah terhadap masyarakatnya pada abad ke-13. Namun, hal serupa kiranya juga bisa kita kaitkan dengan kondisi sekarang, meskipun tidak sama persis. Bahkan tiga tipe itu, jika kita menggunakan konsepsi tipe ideal Max Weber, mungkin bisa diterapkan kepada berbagai profesi, bukan hanya Sufi. Misalnya, dokter, guru, dosen, tukang, polisi dan tentara. Mereka juga bisa dibagi ke dalam tiga tipe: yang benar-benar ahli dan mencintai pekerjaannya, yang sekadar mencari rezeki, dan yang pura-pura (gadungan).
Bagaimana dengan para aktor politik alias politisi? Mungkin tidak jauh berbeda. Ada politisi hakiki, yang bertarung merebut kekuasaan demi mewujudkan cita-cita bersama, yaitu masyarakat adil makmur, lahir dan batin. Ada pula yang sekadar mencari pekerjaan dan penghasilan saja. Dia politisi profesional yang mau bekerja untuk rakyat demi mendapatkan upah yang pantas. Tipe ketiga pun tentu ada, yaitu politisi yang berpura-pura memperjuangkan kepentingan rakyat, padahal dia hanya ingin memperkaya diri sendiri, keluarga dan kelompoknya.
Kita tentu tidak boleh menuduh sembarangan, mana politisi yang termasuk tipe pertama, kedua atau ketiga. Namun, sebagai rakyat pemilih, kita tentu bisa menilai sendiri. Politisi yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK kiranya tidak bisa dianggap termasuk politisi tipe pertama, yang benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat. Politisi pragmatis, yang penting dapat kursi, tentu lebih pas sebagai tipe kedua, yaitu para pencari rezeki. Adapun politisi yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan lebih tepat sebagai tipe ketiga, yaitu politisi penipu.
Pembagian tipe tersebut sesungguhnya hanya untuk mempermudah nalar kita memahami kenyataan hidup manusia yang kompleks. Dalam kenyataan yang sesungguhnya, boleh jadi tipe pertama dan kedua (pejuang kepentingan rakyat sekaligus pencari rezeki) bergabung dalam diri satu orang. Bahkan, tipe kedua dan ketiga (pencari rezeki dan penipu) juga dapat bergabung. Selain itu, perubahan waktu dan kesempatan dapat membuat seseorang berubah, dari politisi yang tulus menjadi politisi yang serakah. Karena itu, tak ada tipe yang statis, yang tak dapat berubah.
Bagaimana dengan rakyat pemilih? Mungkin tak jauh berbeda. Pertama, ada yang memilih benar-benar berdasarkan pertimbangan akal sehat dan hati nurani. Kedua, ada lagi yang memilih hanya jika dia mendapatkan sogok dari calon. Jika tidak ada, dia tidak mau mencoblos. Lebih buruk lagi, dia hanya akan memilih calon yang memberi sogok paling banyak. Tipe ketiga pun ada, yaitu pemilih yang menipu calon. Semua sogok dari semua calon diambilnya, tetapi tak satu pun calon itu yang dipilihnya. Di antara tiga tipe pemilih ini, hanya tipe pertama yang baik.
Setelah pencoblosan dilaksanakan, mungkin kita bisa pula mengelompokkan calon yang menang dalam tiga tipe. Pertama, tipe yang benar-benar menang sesuai dengan suara tulus masyarakat dan sejalan dengan peraturan yang berlaku. Kedua, yang menang karena jual-beli suara. Mereka menyogok para pemilih dengan berbagai cara, termasuk memberikan hadiah barang, uang dan jasa. Ketiga, mereka yang menang manipulatif, menipu publik. Misalnya, mengubah jumlah suara dengan menyogok penyelenggara atau mensiasati peraturan dan hukum agar bisa menang.
Alhasil, baik Sufi, politisi, pemilih hingga hasil pemilihan, secara longgar bisa dimasukkan dalam tiga tipe yang digambarkan oleh Ibnu Taimiyyah. Mengapa? Mungkin karena hidup manusia seringkali berkisar di antara tiga perilaku itu: tulus, transaksional, dan culas. Orang yang tulus akan melakukan sesuatu dengan cinta. Orang yang transaksional akan melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan untung-rugi. Orang yang culas akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya. Dan yang pasti, kita semua akan menanggung segala akibat baik-buruknya! (*)
Orang yang tulus akan melakukan sesuatu dengan cinta. Orang yang transaksional akan melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan untung-rugi. Orang yang culas akan melakukan apapun demi mencapai tujuannya. Dan yang pasti, kita semua akan menanggung segala akibat baik-buruknya!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mujiburrahman-Rektor-Universitas-Islam-Negeri-UIN-Antasari-Banjarmasin-new.jpg)