Tajuk

Belajar dari Belanda

Mungkin Banjarmasin bisa mengambil pelajaran dari Belanda yang secara geografisberada di bawah permukaan laut bahkan lebih parah dari Banjarmasin

Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Dok
Tajuk : Belajar dari Belanda 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BEBERAPA hari ini, Banjir Rob kembali merendam sejumlah wilayah di Provinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin, Kabupaten Batola, Banjar, Tanahlaut, Tanahbumbu hingga Kotabaru yang berlokasi di kawasan pesisir menjadi daerah terdampak bencana ini.

Berdasarkan informasi potensi Banjir Pesisir (Rob) yang dirilis oleh BMKG Kalsel, fenomena tersebut akan berlangsung sampai tanggal 24 Desember 2024. Bahkan, kali ini ketinggian air lebih parah dari biasanya.

Berdasarkan data BMKG, rob kali ini terjadi akibat adanya fenomena pasang maksimum air laut bersamaan dengan fase bulan purnama. Hal itu memicu potensi meningkatnya ketinggian pasang air laut maksimum.

Fenomena yang saat ini melanda Kota Banjarmasin, diperkirakan dalam beberapa hari ke depan akan mencapai puncaknya. Bahkan ketinggian permukaan air pun diperkirakan akan lebih tinggi dari banjir rob yang sudah terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarmasin, Husni Thamrin menyebut bahwa fenomena banjir rob di bulan Desember ini terdiri atas dua fase.

Fase pertama sudah berlalu yakni dari 4-9 Desember 2024, dimana ketinggian air rata-rata adalah 2,8 Meter di atas Permukaan Laut (MdPL).

Sedangkan fase kedua berlangsung dari 17 hingga 22 Desember 2024, dimana ketinggian air lebih meningkat yakni mencapai 2,9 MdPL. Bahkan diperkirakan ada 3 hari berturut-turut ketinggian air mencapai 2,9 MdPL.

Kondisi Banjarmasin yang berada 60 sentimeter di bawah permukaan laut tentu membuat kota ini tidak bisa terhindar dari dampak banjir rob. Sejumlah faktor juga memperparah keadaan, diantaranya, penurunan fungsi lahan akibat pemanfaatan lahan-lahan resapan air untuk permukiman. Kemudian, terjadinya pendangkalan sungai-sungai baik karena proses sedimentasi maupun pencaplokan oleh bangunan liar.

Pemerintah tidak bisa tutup mata dengan fenomena yang terus terjadi di kota ini. Harus ada langkah serius bila tidak ingin Banjarmasin benar-benar “tenggelam”. Langkah mengatasi banjir rob ini bisa dimulai dengan pengkajian hingga langkah kongret untuk mengatasi.

Mungkin Banjarmasin bisa mengambil pelajaran dari Belanda yang secara geografis negara itu berada di bawah permukaan laut bahkan lebih parah dari Banjarmasin. Negara yang 3,5 abad menjajah Indonesia itu, 27 persen wilayahnya berada di bawah permukaan laut bahkan titik terendahnya 6,7 meter MDPL. Namun, dengan sistem pencegahan banjir dan pengelolaan air yang kompleks Kota-kota di Belanda seperti Amsterdam serta Rotterdam yang berada 6 MDPL bisa terhindar dari banjir rob.

Banjarmasin harus serius mencari solusi persoalan ini. Sudah saatnya, Banjarmasin  memfungsikan kembali sungai-sungai, bila perlu dibangun kanal-kanal baru, tanggul hingga pompa di sejumlah titik. Semoga, langkah serius ini bisa mengatasi fenomena yang dampaknya kini semakin merisaukan. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved