Opini Publik
Limbah Farmasi Ancaman Nyata bagi Indonesia
limbah farmasi dapat merusak ekosistem dan membahayakan kehidupan manusia. Namun, masalah ini bukanlah sesuatu yang tidak bisa diatasi.
Oleh: Dimas Febrian Nugraha, Mahasiswa Farmasi Universitas Muhammadiyah Malang
BANJARMASINPOST.CO.ID - INDONESIA sedang menghadapi sejumlah isu lingkungan, salah satunya adalah limbah farmasi. Limbah ini meliputi obat-obatan yang sudah kadaluarsa, sisa obat yang tidak habis, bahan kimia dari pabrik farmasi, dan limbah medis seperti jarum suntik atau cairan kimia.
Limbah ini sering kali mengandung bahan berbahaya seperti antibiotik, hormon, atau zat aktif lainnya yang dapat mencemari lingkungan.
Sebagai contoh, jika antibiotik dibuang sembarangan ke tanah atau sungai dan laut, bisa menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap obat.
Begitu juga, hormon dari pil kontrasepsi yang terbuang dapat berdampak pada sistem reproduksi makhluk hidup di air dan mengganggu keseimbangan ekosistem.
Begitu besar dampaknya terhadap lingkungan dan ekosistem. Namun sangat disayangkan, kesadaran mengenai efeknya masih sangat minim, baik di kalangan masyarakat maupun di sektor industri.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Indonesia menghasilkan sekitar 60 juta ton limbah beracun (B3) setiap tahun.
Sebagian dari limbah ini adalah limbah medis dan farmasi dari rumah sakit, klinik, institusi medis, dan rumah.
Rumah sakit dan pusat kesehatan di Indonesia menghasilkan 290 ton limbah medis per hari, menurut laporan Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun, kapasitas fasilitas pengolahan limbah hanya dapat menangani sekitar 230 ton per hari, menyisakan sekitar 60 ton limbah yang tidak dikelola dengan baik setiap harinya.
Limbah yang tidak diolah ini sering berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA), kemudian dibuang ke sungai dan saluran air.
Selain itu, masyarakat juga menyumbang limbah farmasi berupa obat yang sudah kedaluwarsa atau obat yang masih tersisa setelah digunakan.
Banyak orang tidak mengetahui cara yang tepat untuk membuang obat dan sering kali mereka langsung membuangnya ke tempat sampah atau saluran drainase.
Dampak terhadap Lingkungan
Limbah farmasi yang dikelola dengan buruk dapat memberikan efek serius pada lingkungan. Pertama, pencemaran air dan tanah.
Salah satu efek paling signifikan dari limbah farmasi adalah pencemaran pada sumber air dan tanah. Contohnya, pada tahun 2021, kadar paracetamol yang sangat tinggi terdeteksi di Teluk Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dimas-Febrian-NugrahaMahasiswa-Farmasi-Universitas-Muhammadiyah-Malang.jpg)