Kolom

Giliran Haji Muhidin Memimpin

Baru saja Presiden Prabowo melantik H Muhidin sebagai Gubernur Kalsel, ini kata pasangan Hasnuryadi Sulaiman ini mengenai hal ini

Editor: Irfani Rahman
Foto Ist
Mujiburrahman Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin 

Mujiburrahman
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID - SENIN lalu, 16 Desember 2024, Haji Muhidin resmi dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Gubernur Kalimantan Selatan (Kalsel), menggantikan Sahbirin Noor, yang mengundurkan diri pada 13 November 2024 silam.

Muhidin melanjutkan masa jabatan yang ditinggalkan Sahbirin hingga 6 Februari 2024. Setelah itu, dia akan dilantik lagi menjadi Gubernur Kalsel periode 2025-2030, karena telah berhasil menang dalam Pilkada lalu bersama wakilnya, Hasnuryadi Sulaiman.

“Alhamdulillah, akhirnya kita (saya) dilantik,” kata Muhidin saat menyampaikan sambutan pada acara Penyerahan DIPA tahun 2025 di Gedung Mahligai Pancasila, 18 Desember 2024 lalu, yang dihadiri para pejabat se-provinsi.

Dia bercerita bahwa sebelum pelantikan itu, dia bertemu Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, selama 2,5 jam. Kala itu, sang Menteri bilang, Muhidin nanti saja dilantik sebagai gubernur hingga habis sisa masa jabatan sekarang. Namun, saat mau pulang naik pesawat, Muhidin justru menerima telepon bahwa dia akan dilantik. Dia pun batal pulang.

“Pak Presiden Prabowo menepuk-nepuk pundak saya, tanpa kata-kata. Tetapi saya paham maksudnya,” kenang Muhidin. “Maksudnya, saya nanti akan dilantik lagi. Jadi saya akan dilantik dua kali. Ini berkat sabar,” katanya, yang disambut tepuk tangan meriah para pejabat yang hadir.

Ya, Muhidin tergolong sabar menunggu. Pada Pilkada 2016, ia kalah tipis dengan Sahbirin. Pada Pilkada 2021, dia menang, tetapi sebagai wakil gubernur. Baru pada Pilkada 2024, dia menang sebagai calon gubernur, mengalahkan Raudhatul Jannah, istri Sahbirin.

Pernyataannya perihal “sabar” di atas kiranya sangat penting. Sesuatu yang didapatkan dengan susah payah dan waktu yang lama, kiranya sesuatu yang amat berharga, yang tidak boleh disia-siakan begitu saja.

Pengalaman Muhidin sebagai politisi, yang pernah menjabat sebagai walikota periode 2010-2015, dan wakil gubernur pada 2021-2024, kiranya cukup memberinya pelajaran bahwa politik harus dilakoni dengan sabar.

Menurut KBBI, sabar itu artinya tabah, tenang, tahan menghadapi cobaan, tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati, dan tidak tergesa-gesa.

Selain soal sabar, Muhidin juga mengatakan bahwa dia dilantik presiden berbarengan dengan pelantikan Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ini suatu kebetulan yang baginya penting untuk diingat.

Dia berjanji akan berkoordinasi dengan KPK. “Kita ingin bersih,” katanya serius. Sebagai rakyat, kita tentu gembira dan penuh harap, bahwa yang dikatakan Muhidin itu akan dibuktikannya dalam tatakelola pemerintahan. DIPA Kalsel tahun 2025 ini berjumlah Rp38,7 triliun. Jika uang sebanyak itu tidak bocor, tidak dikorupsi, tentu sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Satu hal yang menarik dari sosok Muhidin adalah gayanya yang “polos”. Saya sengaja memberi tanda petik untuk kata “polos” ini karena bagaimana pun, Muhidin adalah seorang politisi yang kadang perlu berdiplomasi alias mengelak, tidak terus-terang.

Namun, secara umum boleh dikatakan bahwa dia cenderung berbicara apa adanya. Saat debat calon walikota 2010 silam, alih-alih berbicara soal visi-misi, seingat saya dia malah berkata kurang lebih begini: ”Saudara-saudara mungkin belum kenal Haji Muhidin. Inilah saya orangnya. Ganteng bukan? Saya juga mengajak istri saya yang cantik.”

Muhidin adalah seorang pengusaha, terutama pengusaha batubara. Belum lama ini ia melaporkan kekayaannya mencapai Rp414 miliar dan utang Rp40 miliar. Sudah maklum, sejak politik kita makin berat di ongkos, banyak pengusaha yang terjun ke medan kekuasaan ini, termasuk Muhidin.

Semula dia bergabung dengan Partai Bintang Reformasi (PBR) pada 2002-2010. Lalu, sejak 2010 hingga sekarang, dia masuk dan memimpin Partai Amanat Nasional (PAN). Karena itu, citra Muhidin yang dikenal luas di masyarakat terutama adalah sebagai pengusaha kaya yang sukses menjadi politisi.

Kita tentu berharap Muhidin akan sukses memimpin Kalsel. Dia sanggup bersabar menunggu “giliran” hingga akhirnya dilantik menjadi gubernur. Kita berharap kesabarannya itu tidak hanya demi menjadi gubernur, tetapi juga demi cita-cita melayani dan menyejahterakan masyarakat.

Kita juga berharap, keinginannya untuk bersih tidak sekadar karena takut kepada KPK, tetapi karena dirinya yang sudah kaya raya tak perlu lagi memperkaya diri dengan uang haram. Sesuai citranya yang polos, kita berharap apa yang dikatakannya sesuai dengan apa yang dikerjakannya.

Tentu saja, gagal atau berhasil kelak, tidak hanya tergantung pada Haji Muhidin seorang. Orang-orang yang membantunya, para penasihat yang membisikinya, keluarga yang mengelilinginya, para politisi dan pengusaha yang mendukungnya, hingga seluruh rakyat yang dipimpinnya, semua akan memberikan andil sesuai kedudukan dan kemampuan masing-masing.

Namun, pada akhirnya, orang akan tetap menilai, suka atau tidak, siapakah pemimpinnya, bukan? Selamat bekerja! (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Iyyaka Na’budu

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved