Tajuk

Menu Tak Harus Seragam

Saat ini program makan bergizi gratis (MBG) yang menyasar anak usia dini hingga pelajar sekolah menengah atas mulai diluncurkan.

Editor: Irfani Rahman
Banjarmasinpost.co.id/frans rumbon
Suasana program Makan Bergizi Gratis di SDN Pangeran 3 Banjarmasin. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - PROGAM makan bergizi gratis (MBG) yang menyasar anak usia dini hingga pelajar sekolah menengah atas mulai diluncurkan. Pada tahap awal, program ini rencananya menyasar 3 juta anak.

Namun Badan Gizi Nasional (BGN) hanya menyediakan makanan untuk 600 ribu anak pada tahap awal. Program ini telah tersebar di 190 titik di 26 provinsi di fase awal. Ada 190 lokasi  satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang siap operasional per tanggal 6 Januari 2025, termasuk Kalimatan Selatan.

Ada banyak manfaat yang akan didapatkan anak jika program MBG dilakukan secara konsisten. Antara lain mengurangi angka absensi serta menjadi cara edukasi pola makan yang baik.

Di lapangan, sempat terjadi keluhan dari pihak sekolah tentang program MBG. Seperti pelajar sempat jajan di warung karena distribusi makan bergizi gratis terlambat. Alhasil, para siswa ada yang tak menghabiskan sajian makan bergizi gratis yang diberikan.

Sekolah pun memberi saran ke penyedia makan bergizi gratis agar tepat waktu saat mendistribusikan makanan.

Sementara distribusi MBG di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Jawa Timur terlambat 30 menit menurut pihak sekolah.

Salah satu siswa di SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo, Ar Robbyyah, mengatakan porsi MBG yang ia terima kasih terlalu sedikit untuk anak seusianya. Harapannya ditambah lagi dan dikasih sayur.

Di Kalsel, penyaluran makan bergizi gratis bagi peserta didik di SMP Negeri 18 Banjarmasin terlambat dari jadwal yang ditetapkan. Keterlambatan penyaluran program MBG membuat sebagian peserta didik memilih untuk jajan di kantin. Makanan yang seharusnya dibagikan pada pukul 12 siang nyatanya baru tiba 40 menit kemudian.

Ada lagi keluhan dari siswa kelas 5B SD Negeri 25 Kota Palembang. Menurutnya menu yang disajikan terasa hambar dan tidak ada daging.

Keluhan dari siswa dan pihak sekolah menjadi masukan berharga bagi pemerintah karena program MBG ini jangka panjang dan berkelanjutan. Ke depan, program MBG yang sangat bagus ini perlu memiliki standar operasional prosedur (SOP) dan petunjuk teknis (Juknis) sehingga masih menimbulkan kebingungan dalam pelaksanaan.

Munculnya keluhan di sana-sini soal pengantaran makanan ke sekolah yang mepet dengan jam pulang sekolah menunjukkan masih terbatasnya infrastruktur pendukung program ini. Lalu jika ada siswa yang mengeluh tak cocok lidahnya dengan menu MBG masih menandakan adanya penyeragaman dalam program ini seperti memakai katering.

Jika yang memasak itu dari pihak sekolah hingga melibatkan orangtua tentu akan ada kedekatan menu lokal sehingga pelajar akan lebih menyukainya. Bagaimana pun juga sekolah setempat dan orangtua lebih memahami selera anak.

Ke depan sekolah wajib dilibatkan menentukan waktu makan yang ideal supaya sesuai dengan jadwal mereka. Pastikan sekolah ini punya fasilitas yang cukup untuk menyimpan makanan.(*)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved