Tajuk
Bully Masih Mengancam
Ibu korban mengunggah foto sang anak dengan tulisan “stop pembullyan di sekolah, cukup anak saya yang jadi korbanx (nya)”
BANJARMASINPOST.CO.ID - KASUS gantung diri seorang remaja perempuan berinisial I (16) di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel) menjadi perhatian publik.
Ada dugaan siswi salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri di Kota Banjarbaru itu mengakhiri hidup imbas jadi korban perundungan atau bullying sebagai pemicu utama.
Dugaan ini mencuat setelah ibu korban, mengunggah foto di media sosial Instagram, Rabu (5/2/2025).
Ibu korban mengunggah foto sang anak dengan tulisan “stop pembullyan di sekolah, cukup anak saya yang jadi korbanx (nya)”.
Sang ibu kemudian men-tag akun dua televisi nasional dan akun Gubernur Kalsel.
Diketahui, remaja perempuan berusia 16 tahun itu ditemukan tak bernyawa di rumahnya di Kecamatan Banjarbaru Selatan, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan Selasa, (04/02).
Dalam laporan aplikasi DORS SOPS Polri, ternyata, bully termasuk dalam motif permasalahan sosial yang memicu orang bunuh diri.
Berdasarkan data di aplikasi itu, sejak awal tahun hingga 19 Agustus 2024, Polri menangani 849 kasus bunuh diri dari seluruh wilayah di Indonesia.
Masalah ekonomi menjadi motif dengan jumlah terbanyak yang menjadi alasan pelaku bunuh diri, yaitu 271 kasus atau 31,91 persen dari jumlah total kasus bunuh diri. Sementara motif permasalahan sosial yang menjadi penyebab bunuh diri sebanyak 142 kasus atau 16,72 persen.
Sementara, data Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menunjukkan lebih 700 ribu orang di dunia meninggal karena bunuh diri tiap tahun. Namun jumlah orang yang masih mencoba bunuh diri lebih banyak. Bahkan data WHO menunjukkan bunuh diri adalah penyebab kematian keempat di antara anak-anak berusia 15 hingga 19 tahun.
Namun demikian, aksi nekat bunuh diri dapat dicegah. Ada beberapa tanda yang ditunjukkan oleh orang yang berniat bunuh diri, misalnya menarik diri dari teman atau keluarga, merasa kehilangan harapan, kerap membicarakan kematian, hilang minat pada kegemarannya, perubahan mood yang ekstrem, serta mudah kesal pada hal-hal kecil.
Bila ada orang terdekat yang menunjukkan tanda-tanda itu, jangan pernah remehkan. Dekati mereka. Ajak mereka bicara. Dengarkan keluh kesah mereka tanpa memberikan penilaian pribadi. Jangan remehkan pengalaman atau emosi mereka. Anggaplah keinginan bunuh diri itu sebagai tangisan untuk meminta bantuan.
Cukup hadir dan tunjukkan bahwa kepedulian itu masih ada untuk mereka. Tunjukkan kepada mereka bahwa mereka tidak sendirian dan tidak kehilangan harapan. Bila perlu, dorong mereka untuk meminta bantuan profesional.
Selain itu, semua stake holder juga harus memperhatikan masalah ini. Seperti sekolah, harus lebih lagi dalam mengawasi dan peka dengan kondisi siswa-siswinya. Begitu juga dengan lingkungannya, harus peka melihat perubahan anak-anak yang ada di sekitarnya. Terakhir, anak-anak harus dibekali ilmu agama yang kuat. Dengan begitu, mentalnya lebih tahan dengan cobaan yang menimpa. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Tajuk-Mudik-Bijak.jpg)