Tajuk
O2SN Candradimuka Atlet
Terjadi pengurangan cabang olahraga (cabor) yang diperlombakan pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) mulai tahun ini.
BANJARMASINPOST.CO.ID - KABAR kurang mengenakan menghampiri para atlet di kalangan pelajar, mulai tingkat SD/MI, SMP/MTs hingga SMA/SMK/MA. Masalahnya, terjadi pengurangan cabang olahraga (cabor) yang diperlombakan pada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) mulai tahun ini.
Hal ini sebagaimana diumumkan Kepala Bidang Pengembangan Talenta Pusat Prestasi Nasional (Pusprenas) Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Retno Juni Rahmaningsih melalui situs bpti.kemdikbud.go.id, yang disampaikan saat Peluncuran Ajang Talenta 2025 pada Selasa (11/3).
Misalnya untuk jenjang SD/MI, pada 2024 ada enam cabor yakni kids’ athletics, renang, bulu tangkis, pencak silat, karate dan senam. Pada tahun ini tinggal tiga cabor yakni pencak silat, karate dan senam.
Kemudian di jenjang SMP/MTs, sebelumnya mempertandingkan atletik, bulu tangkis, renang, pencak silat dan karate, sekarang menjadi hanya pencak silat dan karate. Sedangkan di level SMA/SMK/MA, kabarnya yang dipertandingkan sampai tingkat nasional hanyalah pencak silat dan karate.
Tidak ada penjelasan mengenai penyebab Kemendikdasmen mengurangi cabor O2SN. Namun rumor beradar, pengurangan cabor ini masih ada hubungannya dengan efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah.
Entar benar atau tidak alasannya karena efisiensi anggaran, pengurangan cabor yang dipertandingkan pada event O2SN sepertinya kurang tepat.
Karena, O2SN merupakan arena bagi para atlet pelajar untuk bisa mengembangkan bakat dan potensinya. Ajang ini ibarat kawah candradimuka untuk lahirnya atlet-atlet berprestasi Indonesia di masa yang akan datang.
Melalui O2SN yang digelar secara serius dan profesional, akan benar-benar tersaring bibit-bibit atlet yang potensial. Terlebih kompetisi ini digelar secara berjenjang dari tingkat kota/kabupaten, provinsi, hingga nasional.
Bukannya dikurangi, cabang yang dipertandingkan di O2SN seharusnya malah ditambah agar ke depan Indonesia tidak hanya memiliki atlet tangguh di satu atau dua cabor.
Bagaimana atlet pemula bisa tertempa dengan baik jika mereka tidak mempunyai arena untuk bertanding sejak dini. Sedangkan mereka harus banyak berkompetisi agar potensinya bisa teruji.
Pengurangan cabor ini tidak masalah bagi atlet-atlet yang cabornya masih dipertandingkan. Tapi akan menjadi masalah bagi atlet-atlet yang cabornya tidak lagi dipertandingkan di O2SN, khususnya mereka yang sudah berprestasi di cabang tersebut.
Bukan mustahil, hal tersebut akan mengerdilkan spirit para atlet pelajar untuk mengasah potensinya agar menjadi atlet berprestasi yang bisa membanggakan Banua dan negara. (*)
--
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Peserta-O2SN-SD-Kabupaten-HST-2024.jpg)