Kolom
Menjelajahi Kota dengan Walking Tour
Adalah kegiatan tur jalan kaki (walking tour) keliling sekitar masjid Jami Banjarmasin dilakukan sejumlah orang beberapa waktu lalu
Walking tour dapat menjadi katalisator dalam menciptakan kota yang lebih ramah lingkungan dan mendukung gaya hidup aktif dan sehat. Mengingat kebiasaan “rebahan” di era modern ini membawa risiko negatif bagi tubuh.
Kurang jalan kaki meningkatkan risiko penyakit seperti gangguan jantung, diabetes, obesitas serta masalah tulang dan sendi. Minimnya aktivitas fisik juga rentan mengundang problem mental berupa depresi, kecemasan, penurunan kognitif, dan gangguan tidur.
Selain memberikan nilai tambah dari segi pengalaman, walking tour juga memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan. Maraknya walking tour akan meningkatkan pemintaan pemandu wisata dan menaikkan gairah pariwisata di wilayah tersebut. Perputaran ekonomi pun berpotensi terjadi.
Uniknya, ada beberapa pelaku walking tour menggunakan model bisnis “pay as you wish” atau “bayar sesukamu”. Model ini memang lebih dulu marak di negara maju di mana peserta menentukan sendiri jumlah pembayaran sesuai tingkat kepuasan mereka—harga tidak dipatok oleh penyelenggara.
Pengembangan tur jalan kaki tidak dimaksudkan untuk menyaingi jenis wisata lain seperti wisata susur sungai atau wisata alam, melainkan sebagai pelengkap yang saling mendukung. Misalnya, wisatawan yang mengikuti tur jalan kaki di pusat kota dapat berpindah antar lokasi naik kapal kelotok.
Sinergi ini sangat penting untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang komprehensif. Yaitu berbagai jenis wisata dapat berinteraksi dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi aspek sosial ekonomi daerah. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Muhammad-Yulian-Mamun-Dosen-Fakultas-Ekonomi-dan-Bisnis-Islam-UIN-Antasari-Banjarmasin.jpg)