Success Story

Ahyat: Seorang Pemimpin Mau Mendengar dan Mengayomi

Di bawah kepemimpinan H Ahyat Sarbini SHut MM yang menjabat Ketua DPD REI Kalsel masa bakti 2021-2025, geliat organisasi sangat terasa.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Ahyat Sarbini dan keluarga 

Sebagaimana diketahui bahwa dalam industri perumahan ada 185 industri ikutan dan program 3 juta rumah dari presiden harus didukung berbagai pihak agar berbagai lini usaha yang melingkupi bisnis ini bertumbuh dan berkembang dengan baik.

Bisnis perumahan berjalan lancar, maka para tukang ada penghasilan, toko bangunan ada penjualan, usaha angkutan ada penghasilan, begitu juga produk perabot rumah laku. Jadi begitu banyak rangkaian bisnis yang tergerak karena pembangunan perumahan.

Sosok Anda sebagai pengusaha sukses, bisa Anda ceritakan awal merintis usaha?
Sampai saat ini saya belum menganggap diri sukses. Saya masih terus belajar dan terus berusaha. Salah satu upaya saya belajar adalah memperbanyak teman karena banyak relasi akan banyak hal didapat.

Mengenai perjalanan usaha, pastinya tak ada kesuksesan yang diraih secara instan. Semua perlu proses. Saya menjalani usaha dari nol dengan proses berliku, sebelum akhirnya bisa menjadi pengusaha.

Kembali ke masa muda, saya kuliah di Fakultas Kehutanan Unlam (sekarang ULM) Banjarbaru dengan harapan bisa berkarier di perusahaan perkayuan atau jadi PNS di dinas kehutanan atau dinas lingkungan hidup. 

Tapi baru saja masuk kuliah pada 1994 dan menjalani Ospek atau orientasi mahasiswa baru, saya dihadapkan pada kenyataan ayah saya meninggal dunia. Sementara saya perlu biaya kuliah.

Awalnya saya sempat ingin putus kuliah, namun keluarga terus mendukung dan dibantu biaya. Kembali pada semester selanjutnya saya terpikir untuk putus kuliah tapi syukurlah kemudian saya berpikir untuk berwirausaha.

Saya kuliah sambil berbisnis apapun yang penting halal. Jual pakaian, tukang foto wisuda, bantu kegiatan kampus dan lainnya.

Dari situ saya banyak belajar kehidupan dari banyak orang termasuk dari para dosen, kemudian saya mantapkan diri untuk berani menjalani hidup yang penuh tantangan.
Dulu saya ini orang yang jarang bicara, tapi  keadaan membuat saya mengubah karakter. Saya harus pandai bicara karena wirausaha itu perlu banyak berinteraksi dengan orang.
Selepas kuliah, saya kerja sebagai sales dan marketing, antara lain menawarkan rental alat berat, jual perlengkapan safety tambang, pernah juga sales mobil, dan juga sales farmasi wilayah Kalselteng.

Sebagai sales farmasi selama enam tahun, saya banyak dilatih skill, knowledge, kemampuan beradaptasi dengan orang, kemampuan menahan diri, sebab sales itu sering dihindari, diabaikan bahkan dihina.

Selain itu saya sambil jual kapling tanah, jual batu hias, dari berbagai pengalaman itulah jiwa entrepreneur semakin terbentuk.

Saat tugas sebagai sales farmasi di Banjarbaru saya berharap bisa tinggal di kota tersebut. Saya pererat pertemanan dengan berbagai kalangan baik dengan dokter,  pengusaha, teman kuliah, dosen, bahkan tukang parkir. Dari situlah saya banyak dapat informasi seputar peluang usaha.

Adapun pertama kali menerjuni bisnis bangun rumah jujur saya tak punya uang, alhamdulilah ada teman yaitu dr Nourmawati yang percaya dan dikasih modal Rp36 juta dan saya bangunma dua rumah, kami bagi hasil.

Jadi saya ini pengusaha moderat alias modal dengkul dan urat. Bisnis kepercayaan tanpa modal uang. 

Lantas ada kawan di bidang farmasi yaitu dr Nuraini Rahman yang kasih modal Rp 50 juta berlanjut Rp 200 juta untuk bangun rumah. Dari membangun 1-2 rumah, jadi 5 rumah, kemudian 10 dan 100 hingga sekarang lebih 10 ribuan rumah.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved