Tajuk

SPMB dan Nilai Kejujuran

Kejujuran adalah salah satu pilar utama dalam seleksi apa pun, termasuk dalam proses SPMB

Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Dok
Tajuk : SPMB dan Nilai Kejujuran 

BANJARMASINPOST.CO.ID- Hasil Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2025 di Kalsel diumumkan Senin (30/6/2025).

Dalam tiap ‘pergelaran’ seleksi masuk sekolah, perguruan tinggi, CPNS dan lain-lain, tentu ada yang lulus dan tidak lolos.

Hal tersebut tentu menjadi sesuatu yang lumrah. Mekanisme yang harus diikuti ketika tidak lolos SPMB adalah dengan mendaftar ke sekolah dengan kuota yang belum terisi penuh.

Sejatinya, seperti itulah adanya SPMB dan dilakoni para siswa serta didukung orangtua.

Mengusung nilai-nilai kejujuran, mendaftar dengan nilai-nilai yang asli, bukan nilai hasil katrolan sekolah bagi pendaftar lewat jalur prestasi rapor.

Menggunakan alamat yang sebenar-benarnya sesuai domisili, bukan nebeng alamat orang lain bahkan mengeluarkan anak dari daftar Kartu Keluarga (KK) dan masuk dalam KK orang lain.

Demikian pula siswa yang mendaftar lewat jalur afirmasi, benar-benar dari golongan kurang mampu secara ekonomi, memiliki Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang asli serta terdaftar di data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS). Pun, jujur ketika ada yang memilih jalur mutasi.

Sayangnya, nilai-nilai kejujuran semacam itu seringkali terabaikan demi anak bisa masuk sekolah favorit.

Cara-cara kurang jujur masih saja ada yang melakoni. Bahkan menggunakan tangan pemegang kekuasaan untuk mempermulus masuk ke sekolah yang diinginkan.

Seperti berita viral, memo titipan siswa dalam SPMB di satu SMAN di Kota Cilegon, Banten dari Wakil Ketua DPRD Provinsi Banten, Budi Prajogo.

Meskipun keberadaan jalur tidak resmi dalam SPMB tersebut dibantah oleh Wamendisdakmen Fajar Riza Ul Haq. Namun, fakta surat tersebut benar adanya.

Kejujuran adalah salah satu pilar utama dalam seleksi apa pun, termasuk SPMB.

SPMB memberi kesempatan yang adil kepada semua peserta. Kalau ada yang curang, memanipulasi data domisili, nilai rapor, itu merampas hak siswa lain yang seharusnya layak diterima.

Selain itu, pendidikan bukan cuma soal angka atau lulus tes, tapi juga pembentukan karakter.

Seleksi yang jujur mendidik calon siswa menjadi pribadi yang berintegritas, kelak akan membawa nilai kejujuran ke dunia kerja atau masyarakat.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved