Tajuk
“Serakahnomics” Pendidikan Tinggi"
Istilah baru ini digaungkan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa acara pada awal pekan ini. Istilah yang terdengar aneh,
“SERAKAHNOMICS”. Istilah baru ini digaungkan Presiden Prabowo Subianto dalam beberapa acara pada awal pekan ini. Istilah yang terdengar aneh, nyeleneh dan provokatif. Merujuk pada kondisi ekonomi saat ini yang dilanda praktik keserakahan sistematis sehingga memicu ketimpangan dan rusaknya tatanan keadilan sosial.
Keserakahan akut itu dilakukan segelintir elite yang mengeksploitasi kekayaan negara dengan mengabaikan hukum dan moral. Dampaknya, kepentingan bangsa tergerogoti.
Dalam konteks lebih luas, makna “serakahnomics” dapat digali dari sektor-sektor lain, termasuk pendidikan. Prabowo pun entah serius atau bercanda beberapa kali menyerukan agar kampus-kampus melakukan studi tentang “serakahnomics” ini.
Tragisnya, dunia pendidikan saat ini pun sedang tidak baik-baik saja. Krisis integritas, ketimpangan kualitas, dan lemahnya orientasi pembangunan karakter.
Baca juga: Dicari dengan Senter, Dua Bocah di Tanahaut yang Hilang Bawa Pancing Akhirnya Ditemukan
Baca juga: Hasil Timnas U23 Indonesia vs Thailand Skor 1-1, Garuda Menang Adu Penalti, Tembus Final AFF U23
Perguruan tinggi baik negeri maupun swasta sejatinya adalah “kawah candradimuka” dan benteng terakhir bagi pemikir-pemikir kritis, inovatif, dan beretika. Namun, realita di lapangan, tidak sedikit yang justru mencerminkan terjadinya “serakahnomics” dalam berbagai bentuk.
Semisal, dosen yang lebih aktif menggarap proyek di luar kampus dibanding tugas utamanya sebagai pengajar. Ada dosen yang sibuk menjadi “tim sukses” di setiap perhelatan politik. Menyedihkan juga ketika penelitian atau penyusunan artikel ilmiah lebih untuk memenuhi syarat angka kredit, ketimbang memecahkan masalah nyata di masyarakat. Bahkan ada pula praktik plagiat, ghostwriting, hingga transaksi jurnal predator yang berdampak pada akreditasi kampus.
Di sisi lain, mahasiswa, yang diharapkan menjadi pilar masa depan, juga tak luput dari dampak sistem yang serakah. Biaya kuliah yang kian tinggi, tekanan sosial untuk sukses secara instan, serta kurangnya keteladanan moral dari lingkungan kampus, menjadikan banyak mahasiswa menjadi apatis, pragmatis, bahkan terjebak budaya instan.
Diskursus intelektual pun melemah. Tak heran banyak kalangan yang menyebut gerakan mahasiswa saat ini telah kehilangan taji. Alih-alih mengasah pemikiran kritis dan kepekaan sosial, banyak mahasiswa lebih tertarik menjadi selebgram, penggila startup tanpa visi sosial, atau sekadar pemburu nilai demi peluang kerja.
Jika istilah “serakahnomics” adalah kritik terhadap tatanan ekonomi yang dipermainkan segelintir elite, maka dunia pendidikan - terutama perguruan tinggi - harus berani introspeksi. Kampus tidak boleh jadi ladang subur bagi praktik-praktik elitis, manipulatif, dan tidak berintegritas. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Mahasiswa-ULM-saat-mengikuti-kuliah-umum.jpg)